Main Menu

Risiko Kebakaran Gunung Slamet Meningkat di Musim Kemarau

Mukhlison Sri Widodo
12-09-2018 19:47

Ilustrasi - Pendaki Gunung Slamet di Pos Bambangan, Purbalingga, Jawa tengah. (Dok. Dinkominfo PBG/FT02)

Banyumas, Gatra.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memperingatkan risiko kebakaran yang meningkat di puncak musim kemarau 2018 ini.

 

Komandan Tim Rekasi cepat (TRC) BPBD Banyumas, Kusworo mengatakan, penyebab kebakaran terutama lantaran ulah manusia. 

Dia mencontohkan, pada tahun 2015 lalu, puncak Gunung Slamet mulai ketinggian 2.800 meter terbakar hingga 40-an hektar lebih.

Kusworo mengungkapkan, hasil penyelidikian, api yang membakar vegetasi semak dan hutan Gunung Slamet ini diduga dipicu oleh api unggun para pendaki yang tak dimatikan secara sempurna ketika akan ditinggalkan.

“Itu yang menyebabkan kebakaran itu biasanya api unggun ya. Seperti yang terjadi pada tahun 2015 itu di puncak Gunung Slamet,” katanya, Rabu (12/9).

Menurut dia, api hanya padam di bagian atas namun masih menyala di bagian bawahnya. Api ini lantas merembet lewat bawah tanah dan merembet ke area lebih luas karena kondisi kering dan tiupan angin kencang.

Sebab itu, ia pun menyarankan agar pendaki lebih berhati-hati saat membuat api unggun. Pendaki harus memastikan api benar-benar padam ketika  ditinggalkan.

“Informasi terakhir, sumbernya berasal dari api unggun. Ya tentunya, harus lebih berhati-hati dan ketika bikin api unggun pastikan ketika akan meninggalkan, memastikan apinya sudah benar-benar padam. Karena apinya lewat bawah tanah,” kata Kusworo, 

Selain bahaya api unggun, Kusworo juga mengingatkan bahaya putung rokok yang bisa memicu kebakaran. Contohnya, kebakaran yang melanda hutan pinus di Patikraja, Agustus 2018 lalu yang diduga disebabkan putung rokok pekerja.

Selain menyebabkan kerusakan, menurut dia kebakaran di gunung maupun di hutan juga membahayakan pendaki. Dikhawatirkan ada pendaki yang terjebak  kebakaran lantaran skalanya yang luas.

Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran di area hutan ini, BPBD Banyumas dan Perhutani sudah melakukan rapat antisipasi dan penanganan bersama. 

Berbagai pelatihan pun sudah digelar untuk relawan untuk pemadaman api di hutan yang tak bisa dilakukan secara konvensional. 

“Untuk antisipasinya kita sudah melakukan rapat dengan perhutani,” jelasnya.

Dia menjelaskan, pemadaman api di kawasan hutan, apalagi gunung, lebih sulit dilakukan. Sebab armada pemadam kebakaran tak bisa masuk lantaran tidak ada akses. Kawasan kebakaran yang luas pun menyulitkan petugas atau relawan untuk memadamkan api.

Kesulitan akan bertambah jika faktor regional lain, seperti kondisi kering dan tiupan angin kencang terjadi di sebuah kawasan yang terbakar.

Selain itu, di kawasan hutan sering kali sulit mencari sumber air untuk membantu pemadaman api. Yang biasa dilakukan adalah dengan melokalisasi api sehingga tak merembet ke area lebih luas.

“Pemadaman dilakukan dengan melokalisir api agar tidak merembet ke wilayah lainnya,” tambah Kusworo.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
12-09-2018 19:47