Main Menu

KPAI: Polisi Harus Usut Pelajar yang Diborgol dan di “Penjara” Sekolah

Anthony Djafar
12-09-2018 20:40

Komisioner KPAI saat konferensi pers di Jakarta.(Dok. KPAI/re1)

Jakarta, Gatra.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut seorang anak sekolah berusia 17 tahun mengalami trauma berat setelah ditahan di salah satu sel sekolah menengah kejuruan di Batam, Kepulauan Riau.

 

"RS mengalami tekanan psikologis karena mengalami kekerasan fisik dan perundungan lewat dunia maya. Anak tersebut membutuhkan rehabilitasi medis maupun psikis," kata Retno Listyarti, Komisioner KPAI saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (12/9).

Retno menjelaskan bahwa RS mendapat hukuman karena dituduh teman-temannya mencuri uang sewaktu praktik kerja lapangan di luar kota dan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya itu pada 8 September lalu.

Akibat tuduhan itu, RS berencana kabur dengan naik pesawat untuk kembali ke Batam. Namun sesampainya di bandara justru ditangkap oleh satu pembina sekolah berinisial ED, yang langsung membawanya ke sekolah.

Dari laporan yang diterima KPAI, dalam perjalanan ke sekolah, RS mengalami kekerasan fisik dan kemudian disuruh berjalan jongkok di pekarangan sekolah yang beraspal dalam kondisi tangan masih diborgol, disaksikan oleh teman-temannya. Ironisnya, kejadian itu didokumentasikan.

‘RS di sel tahanan sekolah selama dua hari dalam keadaan tangan diborgol dan menerima tindakan kekerasan dari pembina sekolah berinisial ED,” katanya.

Retno menyebut bahwa dari laporan diungkapkan bahwa pihak sekolah tersebut memang banyak dikendalikan oleh ED, anggota kepolisian sekaligus pemilik sekolah yang mengirimkan foto-foto penangkapan RS kepada orangtua dan kerabat RS, dan menyebarkannya lewat sosial media.

“KPAI telah melayangkan surat ke kepolisian setempat untuk mengusut kasus tersebut dan mendorong Dinas Pendidikan dan Inspektorat Provinsi Kepulauan Riau menyelidiki sekolah tersebut,” katanya.

Anthony Djafar

Anthony Djafar
12-09-2018 20:40