Main Menu

Polemik Nama Bandara Lombok, SBY: Catatan Allah Tidak Bisa Dihapus

Abdul Rozak
12-09-2018 20:55

Susilo Bambang Yudhoyono.(GATRA/Adi Wijaya/re1)

Jakarta, Gatra.com - Pergantian nama Bandara Internasional Lombok menjadi Bandara Internasional TGKH M Zainuddin Abdul Madjid membuat Partai Demokrat bersuara.

 

Pergantian nama itu berbuntut rencana pencopotan prasasti peresmian bandara yang ditandatangani Presiden RI ke-6 dan sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY mempersilahkan pencopotan prasasti peresmian yang ia tandatangani di tahun 2011. SBY legowo jika pencopotan itu adalah aspirasi masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

 "Saya persilahkan. Lagi pula saya sudah tidak punya hak, apalagi kemampuan untuk menghalang-halangi," kata SBY dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Rabu (12/9).

Mantan Menko Polhukam ini optimis Presiden Jokowi akan menghormati karya dan capaian para pendahulunya. Mulai dari era Bung Karno sampai dengan SBY.

SBY juga meminta rencana pencopotan prasasti peresmian Bandara Internasional Lombok tidak diributkan lagi.

Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terutama di Lombok pasca gempa bumi beberapa waktu lalu.

"Catatan Allah SWT tidak akan pernah bisa dihapus. Tolong isu ini tak perlu diributkan. Masih banyak yang harus dilakukan negara dan kita semua," katanya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan mengeluarkan Keputusan Menteri tentang perubahan nama Bandara Internasional Lombok menjadi Bandara Internasional TGKH M Zainuddin Abdul Madjid.

"Bahwa dalam rangka menetapkan nama bandar udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, telah didapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Majelis Adat Sasak serta Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional," demikian pernyataan Kementerian Perhubungan.


Reporter : Abdul Rozak
Editor: Anthony Djafar

Abdul Rozak
12-09-2018 20:55