Main Menu

Dana Desa Dianggap Mampu Lahirkan Petani Baru

Birny Birdieni
24-09-2018 15:55

Musyawarah Kerja Nasional Petani 2018 di Yogyakarta. (GATRA/Arief Koes/awy)

Yogyakarta,Gatra.com- Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia (Petani) menilai alokasi dana desa selama empat tahun ini mampu menghadirkan regenerasi petani. Hal ini disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Petani Satrio Damarjati usai menutup musyawarah kerja nasional Petani di Pasar Pelelangan Ikan Higienis Kota Yogyakarta, Senin (24/9).

 

“Apa yang dilakukan pemerintah saat ini di bawah Presiden Joko Widodo dengan mengalokasikan dana desa kami kira sejalan dengan program nasional Petani dalam mendorong kaum muda untuk membanjiri lahan pertanian,” kata Satrio.

Meski belum memiliki data resmi dari lapangan, Satrio mengatakan sana desa yang dominan untuk infrastruktur desa termasuk pertanian, membuat petani kembali bersemangat. Pasalnya masalah infrastruktur pertanian, seperti sarana transportasi dan irigasi, sudah lama menjadi masalah bagi petani.

Satrio bilang, kondisi sarana pendukung lahan pertanian yang lebih baik ini ternyata menarik kalangan muda kembali menjadikan petani sebagai profesi dibandingkan mencari pekerjaan di kota.

“Pertanian di desa mampu menumbuh kembangkan potensi anak-anak muda di desa. Tidak sekadar bercocok tanam, kalangan muda berhasil mengembangkan sebuah sistem terpadu yang melayani pertanian desa dari hulu sampai hilir,” lanjut Satrio.

Menurut dia, badan usaha milik desa atau bumdes sebagai bagian dana desa dimanfaatkan anak-anak muda desa semaksimal mungkin. Selain itu, bumdes juga mencari bentuk-bentuk usaha baru yang memberikan pendapatan bagi desa, seperti membuka wisata agro.

Dari mukernas yang digelar 22-24 September, Petani menghasilkan sejumlah keputusan. Pertama, memperluas pendidikan pertanian untuk pemuda agar regenerasi petani tidak mandek.

Kedua, membuka akses pasar langsung petani ke pembeli melalui pemanfaatan teknologi informasi.Ketiga, penguatan pemahanan hukum di kalangan petani.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Petani Jawa Tengah Dumadi Tri Restiyanto menyatakan tantangan terberat petani adalah pembentukan kelompok aktif dan intensifikasi lahan.

“Hadirnya kelompok tani yang aktif dan solid merupakan kunci kehidupan petani. Kelompok ini akan menjadi tangan kedua kalangan petani dalam menjangkau pasar dan ketersediaan sarana pendukung pertanian,” jelasnya.

Dumadi juga melihat intensifikasi pertanian dapat menjadi solusi semakin sempitnya lahan pertanian khususnya di Pulau Jawa guna mewujudkan program ketahanan pangan.


Reporter: Arief Koeshernawan

Editor: Birny Birdieni

Birny Birdieni
24-09-2018 15:55