Main Menu

Petani Banyumas Tolak Impor Beras

Hidayat Adhiningrat P.
24-09-2018 16:28

Panen raya petani di Banyumas, Jawa Tengah. (GATRA/Ridlo Susanto/awy)

 

Banyumas, Gatra.com – Petani di Banyumas, Jawa Tengah, menolak rencana pemerintah untuk kembali mengimpor beras dengan kuota besar. Pasalnya, beras impor akan merugikan petani.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sri Jaya, Tinggar Jaya Kecamatan Jatilawang, Sartam berasalan impor akan menyebabkan harga gabah dan beras jatuh. Padahal, saat ini biaya bertani sangat mahal.

Di antaranya, sewa lahan, persiapan benih, pengolahan lahan, penanaman, perawatan, pemupukan hingga panen dan pasca-panen.

Menurut dia, impor hanya akan menyebabkan petani merugi lantaran menyebabkan harga langsung jatuh. Pengalaman sebelumnya, harga gabah langsung jatuh Rp1.000 per kilogram begitu beras impor masuk.

Pasalnya, padi dari Banyumas juga disuplai ke berbagai daerah sehingga sangat terpengaruh dengan tren harga gabah dan beras nasional.

“Otomatis nanti kalau sampai impor, hasil panen dari petani akan mubah. Istilahnya harganya gabah akan langsung turun jauh,” katanya, Senin (24/9).

Dia berpendapat pemerintah tidak perlu impor beras. Pasalnya, harga gabah di tingkat petani pun ia sebut normal, yakni Rp5.600 per kilogram atau Rp5,6 juta per ton. Adapun beras kualitas medium jenis IR seharga Rp8.000 - Rp9.000 per kilogram.

Dia juga menerangkan, harga gabah Rp5.600 per kilogram merupakan harga yang wajar. Meskti tak tinggi, harga ini menurut dia bisa menutup biaya yang dikeluarkan dengan margin keuntungan tipis. Sebab itu, ia menolak rencana pemerintah untuk mengimpor beras karena tak berpihak kepada petani.

“Misalnya harga gabah kering giling Rp5,6 juta per ton. Biasanya panen kok ada impor langsung turun jadi Rp4,4 juta – Rp4,5 juta per ton,” ujarnya.

Sartam yakin, persediaan gabah dan beras nasional pun masih cukup untuk memenuhi kebutuhan secara nasional. Produksi gabah dan beras secara nasional bisa dilihat dari hasil panen masa tanam pertama (MT 1) 2018 dan MT 2 di Desa Tinggar Jaya yang memiliki lahan 350 hektare, dengan jumlah petani mencapai 1.700 orang. Tiap hektare menghasilan kisaran 7 ton gabah.

Sartam menyebut, persediaan gabah di tingkat petani pun masih banyak. Pasalnya, Banyumas dan beberapa daerah lainnya baru selesai panen raya pada Juli dan Agustus lalu. Di luasan terbatas, ada pula yang panen pada September 2018 ini.

“Sedangkan bulog sendiri kan sudah menolak. Saya kira cukup lah, stok di Bulog cukup lah. Saya kira sampai panen lagi cukup lah,” jelasnya.

Namun, petani masih menimpan gabah untuk dijual saat harga sudah naik, di kisaran Rp6.000 per kilogram. Saat itu, gabah dari petani akan dikeluarkan.

“Saat ini petani masih menyimpan gabah untuk dijual di waktu yang tepat. Punya saya juga masih utuh,” jelasnya.

Dia menambahkan, kenaikan harga akan terjadi sekitar bulan Desember hingga Januari. Pasalnya, saat itu petani sedang memasuki masa perawatan tanaman sehingga belum ada yang panen.

Namun, harga akan kembali turun antara Maret-April saat petani panen raya MT 1. Petani di Tinggar Jaya sendiri, menurut dia, memulai musim tanam MT 1 pada Oktober-November 2018 ini.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
24-09-2018 16:28