Main Menu

Ketersediaan Gabah Masih Berlimpah, Pedagang Banyumas Tolak Impor Beras

Hidayat Adhiningrat P.
24-09-2018 16:39

Panen padi di Banyumas, Jawa Tengah. (GATRA/Ridlo Susanto/awy)

 

Banyumas, Gatra.com – Impor beras menuai polemik antara Menteri Perdagangan, Engartiasto Lukita dengan Direktur Utama Bulog, Budi Waseso. Berbagai kalangan juga menilai impor beras tak tepat. Sebab, cadangan gabah dan beras dinilai masih cukup.

Salah satu yang menolak penambahan kuota impor adalah pedagang beras di eks-Karesidenan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ketua Asosiasi Perberasan Banyumas (APB) Fathurahman mengatakan saat ini ketersediaan gabah di tingkat petani dan pengusaha beras masih berlimpah.

“Kalau impornya masuk saat ini, sebenarnya kurang tepat. Karena stok gabah masih ada di masyarakat,” tandasnya, Senin (24/9).

Akibatnya, serapan beras di pasar pun lamban lantaran gabah di tingkat konsumen masih banyak. Imbasnya, harga beras cenderung stagnan di kisaran Rp8.200 per kilogram dari penggilingan padi ke pedagang pasar. Oleh pedagang pasar, beras dijual dengan harga antara Rp8.700 – Rp9.500 per kilogram.

Dia menjelaskan, harga beras ini sudah bertahan nyaris dua bulan di Banyumas, sejak masa panen raya antara Juni-Juli dan Agustus. Hal ini menurut dia juga dipengaruhi harga gabah yang masih relatif murah, kisaran Rp5.200 per kilogram.

Menurut dia, gudang pengusaha gabah pun hingga saat ini masih penuh lantaran lambannya serapan. Pengusaha lebih banyak menerima beras dari pengusaha penggilingan padi untuk kemudian disalurkan ke pasaran.

“Makanya, untuk harga sekarang ini sudah bertahan sekian lama dengan harga segini,” imbuhnya.

Sebab itu, ia pun menolak impor beras. Impor beras menurut dia justru akan menghancurkan harga yang relatif stabil ini. Pedagang yang memiliki stok gabah pun akan bertambah sulit menjual ke pasar.

“Oh saya nggak (ikut menjual beras impor, red). Kita justru kena efek negatifnya. Dengan masuknya beras impor yang masuk ke pasar umum, sehingga serapan beras lokal ini tersendat,” ujarnya.

Faturahman mengemukakan, pada Oktober-November 2018, petani di karesidenan Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, Cilacap dan Purbalingga sudah memulai musim tanam.

Di sisi lain, wilayah Pemalang dan sejumlah wilayah Pantura pada September malah sudah memulai mengolah lahan. Diperkirakan, panen raya akan tiba pada Maret 2019.

Dia memperkirakan, harga gabah dan beras akan naik di bulan Desember-Januari. Sebab, sebagian besar petani belum panen. Meski begitu, di berbagai daerah tetap ada petani di spot tertentu yang panen padi. Namun, jumlahnya tak terlampau signifikan.

Menurut dia, antara bulan Desember-Januari itu lah petani akan menjual gabahnya, dengan harapan bisa memperoleh harga tertinggi. Pengalaman tahun lalu, harga gabah antara Desember-Januari berada di kisaran Rp6.000 per kilogram.

“(Stok gabah) aman. Karena petani dengan menghadapi musim kemarau panjang ini tidak semuanya dijual, sebagian ditahan,” jelasnya.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
24-09-2018 16:39