Main Menu

Mensos: Rehabilitasi Sosial Perlu Waktu

Wanto
12-09-2015 10:16

Jakarta, GATRAnews - Penanganan terhadap masalah-masalah sosial memerlukan peran dari para psikolog. Sebab, begitu kompleks dan dinamisnya sehingga tidak mungkin dikerjakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) saja. “Para psikolog bisa berperan mengatasi permasalahan sosial mengingat permasalahan yang kompleks dan dinamis, ” ujar Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan persnya.

Misalnya, kata Mensos, ilmu psikologi bisa diterapkan untuk penanganan terhadap korban Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) dengan melakukan pendekatan kejiwaan terhadap para korban. “Psikolog bisa memberikan penguatan ke panti psikotik agar korban penyalahgunaan bisa dideteksi atau didiagnosis dengan tepat dan benar. Sebab, kalau salah bisa salah juga terapi dan penanganannya," tambahnya.

Gangguan psikotik bisa terjadi, selain karena napza juga dampak dari guncangan ekonomi, sehingga membutuhkan diagnosis yang benar. Salah satu, penanganannya bisa dilakukan dengan pendekatan relijius atau agama. “Pendekatan dengan relijius Islam, bisa membaca zikir, “Allah...Allah, yang diharapkan memberikan ketenangan jiwa selama masa terapi atau rehabilitasi medik maupun sosial,” katanya.

Juga, termasuk dengan agama lainnya, misalnya di panti psikotik diminta ada tempat untuk kebaktian dan dikasih air untuk diminumkan dengan tujuan yang sama memberikan ketenangan jiwanya. Penanganan rehabilitasi medik bisa diukur berapa lama. Namun, untuk rehabilitasi sosial membutuhkan waktu alam dan bisa jadi seumur hidup.

Artinya, sangat memerlukan peran dari lingkungan keluarga dan masyarakat. “Begitu kompleksnya, rehabilitasi sosial butuh waktu lama dan bisa jadi semur hidup. Untuk rehabilitasi dengan obat bisa diukur waktunya hingga kapan,” ucapnya.

Penderita psikotik kerap dialami para Tenaga Kerja Indonesia/Tenaga Kerja Wanita (TKI/TKW) yang umumnya bekerja di kawasan Timur Tengah, Hong Kong, Singapura dan Malaysia. “Peran psikolog diperlukan di sana, di mana para TKI/TKW tersebut mengalami berbagai tindak kekerasan di rumah majikan di Timur Tengah, Hong Kong, Singapura dan Malaysia," katanya.


Reporter: Wanto

Editor: Nur Hidayat 

Wanto
12-09-2015 10:16