Main Menu

KPAI: Awas! Pengakses Situs Porno Terbanyak dari Rumah

Nur Hidayat
05-10-2015 12:16

Gerakan kampanye KPAI anti bullying dan pronografi pada anak (GATRAnews/dok)

Jakarta, GATRAnews - Ada data menarik yang dinyatakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ternyata anak-anak Indonesia paling banyak mengunjungi --atau tidak sengaja mengunjungi-- situs pornografi justru dari rumah! KPAI menilai jaringan internet di rumah harus mendapat perhatian semua pihak agar anak terlindungi dari situs pornografi dan terlarang. 

“Akses pornografi dan situs terlarang itu terbesar di lingkungan rumah. Baru kemudian di warnet,” kata Ketua KPAI Asrorun Ni’am Sholeh usai menghadiri kampanye “Stop Cyber Bullying” di Gelora Bung Karno Jakarta (4/10). 


Mantan Ketum PP IPNU itu menambahkan lingkungan rumah yang selama ini dianggap aman ternyata menjadi tempat paling mudah bagi anak untuk mengunjungi situs terlarang. Kondisi seperti ini menunjukkan orangtua abai terhadap perlindungan anak dari bahaya internet.

“Gerakan stop cyber bullying ini menjadi mekanisme edukasi terhadap masyarakat, khususnya anak-anak, untuk memanfaatkan dunia maya secara positif,” katanya dalam siaran pers, Senen (5/10). 

KPAI mencatat ada 30 juta anak dengan rentang usia 10-18 tahun yang sudah bisa mengakses internet. Usia tersebut sangat rentan terhadap pengaruh buruk internet.

Beberapa kasus akibat dampak buruk internet adalah bullying, kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak. “Kasus bullying ini berawal dari obrolan canda, namun kemudian berakhir dengan saling olok dan ejek. Efeknya adalah anak trauma karena dibully di media sosial dan akhirnya malas ke sekolah,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Yohanna Susana Yembise menegaskan kampanye stop cyber bullying menjadi bagian perlindungan anak. Menurutnya, orangtua, guru dan masyarakat harus melindungi anak dari dampak buruk internet.

“Kita harus hati-hati dengan internet, apalagi anak-anak yang lahir dari 0- 18 tahun. Harus yang baik dan terarah. Jangan sampai membuka situs-situs yang tidak terpuji, situs yang tidak baik,” jelasnya saat memberikan pengarahan di hadapan peserta kampanye.

Yohana menjelaskan internet harus digunakan untuk hal-hal positif. Menurutnya, kegiatan belajar mengajar di sekolah bisa menggunakan internet untuk mendukung kreatifitas anak. "Di sekolah, situs yang dibuka haruslah materi yang dipakai di sekolah, jangan sampai membuka situs-situs yang tidak terpuji,” jelasnya.

Gerakan Stop Cyber Bullying melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Informasi dan Komisi Perlindungan Anak

Indonesia. Ketiganya merupakan unsur pemerintah yang mendapat dukungan dari sejumlah lembaga masyarakat, seperti Indonesia Children Online Protection (ID COP). ID COP memelopori gerakan perlindungan anak dari pengaruh buruk internet. 


Editor: Nur Hidayat

 

Nur Hidayat
05-10-2015 12:16