Main Menu

Indonesia Kecam Aksi Pengeboman di Turki

Iwan Sutiawan
12-10-2015 04:39

Korban bom di dekat stasiun kereta utama Ankara, Turki (AFP/Adem Altan)

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah Indonesia menyatakan mengecam keras aksi pengeboman di dekat stasiun kereta utama Ankara, Turki, Sabtu (10/10), yang menewaskan 95 orang dan melukai lebih dari 200 orang lainnya.

"Pemerintah Indonesia mengecam peristiwa ledakan bom di Ankara, Turki, pada tanggal 10 Oktober 2015," ujar Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), dalam keterangan tertulis yang diterima GATRAnews, di Jakarta, Senin (12/10).

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan simpati dan belasungkawa mendalam kepada pemerintah dan rakyat Turki, khususnya kepada keluarga korban tewas dan luka.     

Berdasarkan hasil koordinasi dengan perwakilan RI di Ankara, hingga hari Minggu kemarin (11/10), tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban ledakan bom tersebut.

Hingga kini Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara terus melakukan koordinasi dengan otoritas Turki, untuk mengetahui perkembangan dan proses identifikasi korban.

KBRI Ankara telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh WNI di Turki, untuk berhati-hati saat bepergian, khususnya pada tempat terbuka yang kemungkinan dapat menjadi target. KBRI Ankara membuka layanan informasi dan hotline pada nomor+905321352298.

Kantor berita Reuters, Sabtu kemarin (10/10), melansir terjadi dua ledakan keras di kawasan persimpangan jalan dekat stasiun kereta api di Ankara, dengan target para aktivis yang diorganisir oleh kelompok-kelompok sayap kiri dan pro-Kurdi yang sedang berkumpul untuk melakukan aksi damai.

Otoritas setempat sedang berusaha mengungkap siapa pelaku dua bom tersebut, termasuk kemungkinan merupakan aksi bom bunuh diri.

Ledakan tersebut terjadi di tempat yang akan menjadi pusat demo menyuarakan "Buruh, Perdamaian, dan Demokrasi", yang dijadwalkan digelar pukul 10.00 waktu setempat, untuk menyampaikan penolakan warga Turki atas serangan militer negaranya terhadap pemberontak Kurdi.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
12-10-2015 04:39