Main Menu

KPAI Nilai Draf Peraturan Menteri Game Online Bisa Merusak Mental Anak

Januar
30-10-2015 19:21

Ketua Divisi Pengawasan, Monitoring & Evaluasi, Maria Advianti(dok.kpai.go.id)

Jakarta, GATRAnews - Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang menyusun Peraturan Menteri (Permen) mengenai Permainan Daring (Game Online). Nantinya, aturan tersebut mengatur mengenai konten permainan yang dapat dimainkan anak-anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai dalam draf Permen tersebut masih banyak yang tidak sesuai dan justru dapat merusak mental anak-anak.   Ketua Divisi Pengawasan, Monitoring & Evaluasi, Maria Advianti menjelaskan salah satu pasal yang bermasalah adalah pasal 9 huruf i yang menyebutkan konten game online boleh mengandung horor yang berusaha menimbulkan perasaan ngeri atau takut.

"Entah ini salah ketik atau tidak, tapi pasal tersebut membolehkan anak-anak bermain game online yang mengandung horor," jelas Maria Advianti di Jakarta pada Kamis (29/10).

Selain itu, Permen ini membolehkan anak berusia 13-16 tahun bermain game online yang mengandung unsur rokok, minuman keras dan narkoba. Sementara, anak berusia 17 tahun sudah diperbolehkan bermain game yang mengandung pornografi, kegiatan seksual dan penyimpangan seksual.

"Ini bisa kita lihat dalam pasal 6 sampai 11 yang sangat longgar sekali. Anak bisa bermain game yang mengandung unsur kekerasan, pornografi, perjudian, narkoba, kekerasan seksual bahkan pemerkosaan," tandasnya.

Di dalam Permen tersebut, ada klasifikasi umur yang diperbolehkan untuk mengakses game online. KPAI menilai klasifikasi tersebut tidak tepat karena anak yang berusia 17 tahun ternyata dibenarkan untuk bermain game dengan konten dewasa.

Padahal, UU Perlindungan Anak menyebutkan seseorang yang belum berusia 18 tahun dikategorikan sebagai anak dan mereka memiliki hak untuk dilindungi dari pengaruh buruk game online.

"Kami menilai jika peraturan ini tidak segera direvisi justru akan melegalkan penyelenggaraan game online yang tidak mendidik dan merusak anak," katanya.  


Reporter: Januar Rizki

Editor: Nur Hidayat

Januar
30-10-2015 19:21