Main Menu

BMKG Bangun Sistem Peringatan Dini Bencana Alam

Iwan Sutiawan
18-11-2015 01:42

Petugas BMKG pantau cuaca dari layar monitor (Antara/Septianda Perdana)

Jakarta, GATRAnews - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membangun sistem peringatan dini meteorologi dan klimatologi untuk mengantisipasi bencana alam yang belakang sering terjadi. Hal itu dikatakan Kepala BMKG Andi Eka Sakya dalam seminar bertajuk "Roving Seminar On Weather Forcast Verification In Support Of Global Framework For Climate Service (GFCS)", di kantor BMKG, Jakarta, Selasa (17/11).

Dalam keterangan tertulis yang diterima GATRAnews, Andi memaparkan, melalui sistem ini BMKG bertekad meningkatkan layanan informasi cuaca dan iklim secara cepat, tepat akurat, serta mudah dipahami oleh stakeholders.

"Informasi cuaca dan Iklim yang saat ini disampaikan BMKG sangat penting  dalam bidang maritim, pertanian, ketahanan pangan, sektor kelautan, sektor lingkungan, kesehatan, dan dijadikan sebagai pengambil kebijakan," ujarnya.

Namun demikian, Andi mengakui bahwa penyampaian informasi dari BMKG masih terbatas dalam akurasi informasi, sehingga pihaknya akan terus berupaya meningkatkan akurasi pengamatan cuaca dan iklim.

Pembangunan sistem peringatan dini di atas, berangkat dari meningkatnya bencana alam yang akhir-akhir ini. Sebanyak 80% di antaranya, akibat faktor hidrologi, meteorologi, dan iklim.

"Selain angka 80% kejadian bencana alam yang disebabkan faktor hidrologi, meteorologi, dan iklim tadi, data menyebutkan, bencana tersebut telah menewaskan korban jiwa sekitar 45% dan 79% orang kehilangan harta benda," kata Andi.

Menurutnya, ada empat faktor yang menyebabkan resiko bencana, yaitu manusia tidak dapat memahami suatu resiko menjadi bahaya, keterkaitan keretanan alam dengan pemanasan global, ketidakberdayaan manusia dalam menyikapi alam, dan ketidaksediaan atau masih kurangnya sistem peringatan dini yang dapat bekerja lebih baik.

Seminar yang diprakarsai oleh organisasi meteorologi dunia yang juga merupakan bagian dari program penelitian mengenai cuaca dunia ini, BMKG bertindak sebagai tuan rumah.

"Bagi Indonesia seminar ini sangat penting sekali dan ini juga sebagai seminar pertama di dunia,  biasanya WMO yang menggundang. Tapi untuk kali ini diselenggarakan di Indonesia, dan ini menjadi penting, karena Indonesia memasuki musim transisi," tutur Andi.

Ia mengharapkan, seminar ini bisa meningkatkan pengetahuan dan memberikan masukan kepada para pengamat BMKG, sehingga dapat meningkatkan tingkat akurasi dan kualitas pengamatan.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
18-11-2015 01:42