Main Menu

Kesenjangan Ekonomi Jadi Ancaman Laten

Iwan Sutiawan
19-06-2016 01:57

Masyarakat miskin perkotaan (ANTARA/dok)

Jakarta, GATRAnews - Koordinator Perjuangan Kekuatan Rakyat Yudi Syamhudi Suyuti mengatakan, Indonesia memiliki bahaya laten dari besarnya kesenjangan ekonomi antara masyarakat pribumi dan non- pribumi. "Pemerintah tidak mampu mengatasai kesenjangan ini, agar terjadi kesetaraan kekuatan ekonomi antara masyarakat pribumi dan non-pribumi," kata Yudi, di Jakarta, Minggu (19/6).

Namun Yudi tidak menjelaskan, siapa saja yang dimaksud "pribumi" dan "non-pribumi". Menurutnya, jika terjadi kesetaraan antara pribumi dan non- pribumi, keduanya bisa menjadi teman perjuangan. Sementara saat ini, terjadi permusuhan yang laten dan dapat meletus kapan saja, sehingga menghasilkan banyak kerugian.

"Kita bisa melihat ketika Tun Abdul Razak, Perdana Menteri kedua Malaysia menerapkan dasar ekonomi baru di Malaysia, di mana sebelumnya terjadi jarak perekonimian yang sangat jauh antara masyarakat bumiputera dan non-bumiputera," ujarnya.

Penerapan konsep ekonomi tersebut menjadikan Malaysia mampu mendudukkan ekonomi, bumiputera, non-pribumi, dan orang-orang asing dengan persentasinya 30, 40, 30 dari kekuatan ekonomi Malaysia.

Di Indonesia, masyarakat non- pribumi, khususnya dari etnis tertentu begitu menguasai kue ekonomi saat ini akibat kekuasaan seolah tidak percaya kepada kemampuan orang-orang pribumi yang secara hukum adat adalah pemilik tanah, air, dan udara yang sesungguhnya.

"Justru para masyarakat non- pribumi, etnis ini banyak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dengan merebut tanah-tanah milik masyarakat adat," ujar Yudi.

Jika kita melihat kedudukan sosial, ekonomi masyarakat yang menguasai perekonomian di Indonesia, telah menguasai hampir 80% sumber-sumber kemakmuran. Mereka telah sangat kaya raya, bahkan ada data yang menyebut uang masyarakat non- pribumi diparkir di luar negeri mencapai angka Rp 14.000 triliyun dan berputar.

Mereka ini mendapat kemudahan dari Indonesia, akan tetapi membawa keuntungannya ke luar negeri. Dan saat ini, ketika ekonomi telah dikuasai oleh para konglomerat dari kelompok non-pribumi etnis tersebut, mereka ingin merebut kekuasaan politik.

"Sudah saatnya kita bersama menegaskan untuk menguatkan rakyat pribumi kita.Kita menghidupkan kekuatan api pribumi ini bukan untuk menjadi kaum rasis yang penuh kebencian," ujar Yudi.

Akan tetapi, kata dia, untuk membangun kesetaraan di tanah yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjaganya. Agar kesetaraan antara pribumi dan non-pribumi bisa setara dengan persentasi 50:50 dalam lapangan ekonomi.

"Untuk membangun kepercayaan, saat ini rakyat pribumi jangan pernah memilih pemimpin dari non-pribumi sebelum terjadi kesetaraan antara masyarakat pribumi dan non-pribumi di Indonesia," ujarnya.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
19-06-2016 01:57