Main Menu

Badan Bahasa: Media Memartabatkan Bahasa Indonesia

Tian Arief
05-09-2016 18:43

Kepala Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Gufron Ali Ibrahim (GATRA/Agriana Ali/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Kepala Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Gufron Ali Ibrahim mengatakan, media massa salah satu mitra Badan Bahasa yang turut membantu pengembangan dan pembinaan bahasa. “Badan Bahasa bersama media massa bergiat bersama-sama dalam memartabatkan bahasa kita,” kata Gufran, di Jakarta, Senin (5/9).

Menurut Gufran, dalam dalam perbincangan dengan awak redaksi GATRA, diGedung Gatra, Jakarta, bahasa jurnalistik yang digunakan media massa memiliki ciri kekhasannya sendiri, sehingga tidak bisa dikatakan bahasa yang satu lebih baik dibanding ragam bahasa lainnya (bahasa ilmiah, bahasa hukum, dan bahasa sastra).

"Bahasa ilmiah tidak bisa dikatakan lebih baik daripada bahasa jurnalistik karena memiliki karakteristik yang berbeda. Kalau bahasa ilmiah digunakan di media massa, tentu pembacanya akan merasa bosan karena tidak menarik. Demikian pula sebaliknya, bahasa jurnalistik tidak bisa digunakan dalam karya ilmiah, seperti tesis," tutur Guru Besar Antropologi Linguistik Universitas Khairun Ternate itu.

Namun demikian, Gufron mengimbau media massa, yang memiliki fungsi -salah satunya- mendidik, agar memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat lewat pemilihan bahasa yang cermat, apik, dan santun. Menurutnya, ketiga kata ini dijadikan motto Badan Bahasa. Cermat, Apik, dan Santun Berbahasa, yang disingkat CAS.

Menurutnya, bahasa media atau pers itu hendaknya cermat, sesuai kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kendati tetap dengan ciri khas media yang bersangkutan, sehingga apik atau bagus untuk dibaca karena santun dalam bertutur (lewat bahasa tulisan).

Dalam diskusi yang juga memperkenalkan profil Badan Bahasa itu, Gufran menjelaskan, terdapat tiga pusat yang berada di bawah Badan Bahasa, masing-masing Pusat Pengembangan, Pusat Pembinaan, dan Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, yang masing-masing mempunyai tugas khusus.

Pusat Pengembangan untuk mengembangkan dan memodernkan bahasa Indonesia agar terus dapat mengikuti perkembangan zaman. Sedangkan Pusat Pembinaan untuk membina masyarakat agar tetap memiliki sikap positif serta bangga dan cinta terhadap bahasa Indonesia.

Adapun Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan bertugas melakukan kajian strategis di bidang kebahasaan yang menyangkut strategi politik, militer, dan juga kriminal (linguistik forensik) serta melatih bahasa asing para diplomat dan militer Indonesia yang akan dikirim ke PBB/forum internasional dan juga melatih bahasa Indonesia diplomat asing yang bertugas di Indonesia.     

Pada kesempatan sama, Kepala Sub Bidang Penyuluhan Badan Bahasa Suladi mengatakan, media massa berperan penting dalam mengembangkan bahasa, dan berpengaruh positif terhadap perkembangan Bahasa Indonesia. Namun di sisi lain mengkhawatirkan, karena banyak kata-kata di media massa yang tidak menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

"Sebab bisa bahasa media yang kacau, kasihan pembacanya," kata Suladi.

Dia menunjuk contoh sebuah koran yang menggunakan bahasa yang jauh dari kaidah berbahasa yang baik dan benar, dengan alasan kebebasan berbahasa atau berekspresi. Padahal, menurutnya, media sangat penting dan strategis sebagai alat penyebarluas informasi.

Sementara itu, Penyuluh Bahasa Meity Taqdir Qodratillah menyampaikan, pemilihan kata serapan dari bahasa asing di media harus memperhatikan aspek kecermatan. Dia mencontohkan, kata "pasca", ditulis menggunakan huruf c sehingga dibacanya "pasca", bukan paska (dalam contoh kata pasca-panen). Sebab, menurutnya, jika salah tulis dengan "paska" (dengan huruf k) bisa berarti lain. Dalam bahasa etnis tertentu, kata Meity, kata itu bisa berarti aktivitas seksual.


Reporter: Tian Arief

Tian Arief
05-09-2016 18:43