Main Menu

Pakar Komunikasi Politik Kritik Pernyataan Refly Soal Jokowi

Andhika Dinata
07-09-2016 07:43

Refly Harun (Gatra/Ardi Widi Yansah/AK9)

Jakarta, GATRAnews- BARU-BARU ini pakar hukum tata negara Refly Harun mengatakan bahwa  Presiden Jokowi saat ini tengah menjadi ikon banyak partai, khususnya Golkar. Pernyataan itu dinilai akan membuat cemburu partai pengusung Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu, PDI Pejuangan. 

Menurut Refly, manuver Golkar mendukung penuh Jokowi jauh-jauh hari menurutnya akan menguntungkan Golkar. Sebaliknya PDI Perjuangan akan ketar-ketir melihat kondisi tersebut. "Tidak ada jaminan PDIP mencalonkan Jokowi sementara dengan Golkar sudah 90 persen, Golkar adalah parpol terbesar kedua dan Jokowi nyaman dengan kendaraan besar", ujar Refly kepada wartawan, Selasa lalu (6/9).

Pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menilai pernyataan Refly tersebut bias dan mendahului segala kemungkinan dan peluang berpolitik. Menurutnya, Refly berpijak pada hubungan yang saling menguntungkan antara Golkar dan Jokowi.Namun pola komunikasinya cenderung tak terarah. "Misalnya RH (Refly Harun) bilang Jokowi memerlukan kepastian maju Pilpres 2019, sementara Golkar perlu tokoh untuk dijadikan ikon,"jelas Emrus.

Ia menambahkan bahwa pernyataan Refly berpotensi menimbulkan kegaduhan dan bisa membuat Presiden Jokowi kurang nyaman secara politis. "Tesis RH tersebut menafikan bahwa fenomena politik itu sangat cair, bisa berubah sesuai kepentingan,"ujar Emrus kepada GATRA News.

Alih-alih sepakat dengan tesis Refly, Emrus berpandangan bahwa kontestasi Pilpres masih jauh dan tidak ada jaminan Golkar akan konsisten mengusung Jokowi pada Pilpres mendatang. Dirinya juga menyayangkan pilihan diksi tertentu  yang seakan bertentangan dengan pilihan politik Refly yang selama ini dikenal punya simpati kepada Jokowi.

Misalnya, pengungkapan bahwa Presiden Jokowi yang nyaman dengan kendaraan besar, yang menurut Emrus kurang pas untuk konteks terkait. "Itu bisa membuat Jokowi kurang nyaman secara politik karena bisa dimaknai sebagai sosok transaksional demi memperoleh 'perahu politik' untuk maju Pilpres 2019,"ujarnya.

Di sisi lain, Emrus percaya bahwa Jokowi termasuk sosok yang konsisten memperjuangkan visi politiknya. "Sejak dari Solo-1 ke Jakarta-1, kemudian jadi RI-1,
Jokowi selalu setia dan diusung oleh PDIP,"jelasnya.**

 

Reporter  : Andhika Dinata

Editor      : Bambang Sulistiyo

Andhika Dinata
07-09-2016 07:43