Main Menu

Pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi Tidak Gunakan Otak

Wem Fernandez
06-10-2016 16:37

Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), TB Hasanuddin (ANTARA/Widodo S Jusuf/re1)

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), TB Hasanuddin, tak habis pikir jika ada petinggi atau prajurit TNI yang ikut dalam padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Menurutnya, para pengikut Taat Pribadi ini tidak menggunakan rasionya sebagai sarana untuk berpikir.


"Mau jenderal (TNI), mau kopral itu otaknya enggak dipake!  Saya tahu itu siapa saja, otaknya enggak dipake. Sampai ada letnan kolonel bahkan kolonel yang terlibat pembunuhan. Kesimpulannya enggak ada yang untung, uangnya tuh masuk ke kanjeng semua," tegasnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (6/10).

Taat Pribadi sendiri diduga melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap dua orang santrinya. Motifnya, dari versi yang diberikan pihak kepolisian, Taat Pribadi khawatir perbuatan gaib penggandaan uang yang dipraktekan dibongkar oleh dua pengikutnya tersebut.

"Kalau sulap saya percaya, yang di Kalimantan benar kan yang keluar dari tangannya itu bukan duit malah potongan-potongam kertas. Ya biasa-biasa saja, bekerja, belajar dan menghasilkan sesuatu," kata politisi PDI Perjuangan ini.

Menurutnya, para pengikut Taat Pribadi ini sedang goyah dan mencari solusi dengan jalan yang pendek.

"Kalau meminta sama Allah juga panjang, lalu pinjam duit ke bank harus pake bon, maka logika dan kepinteran kita tergerus dengan arus pendek dengan cara mendatangi kanjeng,"

"Saya pribadi percaya sama yang ghoib, malaikat kan ghoib, saya percaya. Tapi kalau manusia bisa cetak duit dari tangan keluar saya minta dibuktikan deh. Kalau ada intelektual percaya, itu ilmu doktornya enggak dipake. Kalau ada perwira yang ikut, kualitas perwiranya diragukan," ucap Hasanuddin.


Reporter: Wem Fernandez
Editor: Arief Prasetyo

Wem Fernandez
06-10-2016 16:37