Main Menu

Senator DKI Minta KPU Jakarta Tambah Frekuensi Debat Publik

Wem Fernandez
07-10-2016 17:44

Ilustrasi (Antara/Fouri Gesang/AR7)

Jakarta, GATRAnews - Senator asal DKI Jakarta Fahira Idris meminta KPU DKI Jakarta menambah frekuensi debat publik Calon Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta. Semula yang direncanakan tiga putaran menjadi lima putaran atau lima kali debat publik.

 
Penambahan frekuensi ini, mengingat kompleksitas persoalan Kota Jakarta. Juga untuk menyakinkan pemilih pasangan mana yang paling layak dan pantas memimpin Jakarta lima tahun mendatang.
 
“Kalau hanya tiga putaran, saya tidak yakin semua persoalan di Jakarta bisa dikupas dalam debat. Persoalan Kota Jakarta itu sangat kompleks, kalau cuma tiga kali, pasti banyak tema-tema yang akan luput,” ujar Fahira dalam rilis yang diterima wartawan, Jumat (7/10).

Debat publik ini, kata Fahira, jadi momentum penting bagi warga Jakarta agar benar-benar memilih secara rasional karena didasarkan atas kualitas calon yang mereka lihat saat debat.
 
Dari hasil survei Pilkada DKI yang dilakukan beberapa lembaga survei, presentase pemilih yang belum menentukan pilihannya dan swing voters cenderung masih besar. Mereka yang belum menentukan pilihannya dan pemilih yang masih ‘mengambang’ ini biasanya menentukan pilihannya setelah melihat performa para pasangan calon saat debat publik.
 
“Anggaran mungkin menjadi kendala jika frekuensi debat publik ditambah. Namun, demi warga Jakarta yang memang antusias menyambut Pilkada kali ini dan untuk mengedepankan rasionalitas dalam memilih, mudah-mudahan KPU Jakarta bisa mencari solusinya,” kata Fahira.
 
Fahira juga mengharapkan, tema debat Pilkada DKI 2017 mendatang bisa lebih spesifik dan tajam, tidak terlalu umum dan luas seperti kebanyakan debat Pilkada yang sudah berlangsung selama ini.
 
Tema yang terlalu umum biasanya akan melahirkan debat yang berisi paparan yang umum juga, sehingga kehilangan kontekstualnya. Akibatnya, pemilih kesulitan menentukan di mana kelebihan antara satu pasangan calon dengan calon lainnya. Dan sukar menebak sikap tegas pasangan calon terhadap isu-isu tertentu.
 
“Jangan ada lagi tema-tema yang mengambang misalnya ‘pembangunan ekonomi’ atau ‘meningkatkan kesejahteraan sosial’. Tapi lebih tajam misalnya solusi cerdas menghalau banjir dan mengurai macet atau tema yang aktual. Misalnya solusi bagi kampung-kampung yang ada di pinggir sungai, pandangan terhadap reklamasi Teluk Jakarta, Ekonomi Kreatif, UMKM, dan isu-isu aktual kota Jakarta lainnya,” papar Fahira.
 
Sebagai informasi, debat publik Pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta akan digelar di sela-sela masa kampanye yaitu pada 26 Oktober 2016-11 Februari 2017.


Reporter: Wem Fernandez
Editor: Arief Prasetyo

Wem Fernandez
07-10-2016 17:44