Main Menu

Menkopolhukam dan Menhumkam Bertanggung Jawab Bom Samarinda

Andya Dhyaksa
14-11-2016 09:47

Lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur (ANTARA/Amirulloh/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Satu orang meninggal dan tiga lainnya terluka akibat ledakan bom yang terjadi di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu kemarin (13/11/16). Mereka adalah IO (2 tahun/meninggal), TH (4 tahun/luka bakar), AA (4 tahun/luka bakar) dan Ak (2 tahun/luka bakar). Saat ini, tiga nama terakhir masih dirawat di rumah sakit Abdul Muis, Samarinda. 

 

Banyak yang mengecam aksi yang dilakukan oleh Joh, pelaku teroris kasus bom buku Utan Kayu, Jakarta Timur, pada Maret 2011 silam itu. Menurut Sahat Martin Philip Sinurat, Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Wiranto, dan Menteri Hukum dan HAM, Yasona Laoly, harus bertanggung jawab atas aksi tersebut.

 

“Dua Kementerian tesebut memiliki kewajiban melakukan pengawasan kepada setiap napi dan residivis teroris, karena dimungkinkan dapat mengulangi tindakan kejahatan serupa dan menganggu kepentingan nasional,” kata Sahat.

 

Sahat juga mengkritisi Badan Nasional Penanggulan Terorisme dan Kepolisian Daerah Kalimantan Timur. “Selain kepala BNPT, kami juga meminta Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin, dan Kapolres Samarinda Kombes Pol Setyobudi Dwiputro untuk dicopot dari jabatannya karena gagal mengantisipasi terorisme yang menyerang anak-anak,” katanya.

 

Atas aksi ini, Sahat meminta seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, khususnya anggota GMKI, untuk tidak terprovokasi peristiwa tersebut. Dengan berhasil ditangkapnya pelaku keadaan hidup, menurut Sahat, memungkinkan pemerintah dapat melakukan tindakan apapun untuk mencegah serangan lanjutan kelompok teroris di kemudian hari.

 

“Khususnya mencegah agar anak-anak yang tidak tahu apa-apa kembali menjadi korban teroris,” katanya.


Penulis: Andya Dhyaksa

Editor: Dani Hamdani 

 

Andya Dhyaksa
14-11-2016 09:47