Main Menu

Jokowi: Pembom Gereja Oikumene Harus Dihukum Berat

Andya Dhyaksa
14-11-2016 16:46

Lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur (ANTARA/Amirulloh/HR02)

 

Jakarta/GATRAnews. Pelaku pemboman Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, pada Ahad lalu harus dihukum maksimal. Begitu pernyataan Presiden Joko Widodo. Pasalnya, bila tidak dihukum berat, pelaku dapat mengulangi hal yang sama di lain waktu. “Langkah tegas dengan harus dihukum seberat-beratnya,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung, menyampaikan pesan Jokowi, di kantornya Senin (14/11). Sebagai catatan, pelaku Joh, pernah melakukan teror serupa di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 2011 silam.

 

 

 

 

Hukuman berat ini, menurut Pram, bukan bagi pelaku peledakan. Tetapi juga pihak-pihak lain yang merupakan jaringan kelompok tersebut. “Bagi siapapun pelakunya, baik itu tunggal atau kelompok harus diambil langkah tegas dengan harus dihukum seberat-beratnya,” kata Pramono. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Joh diketahui tidak tewas akibat aksinya dan berhasil diamankan.

 

 

 

Hukuman berat ini, menurut Pramono, bukan hanya dikarenakan pelaku pernah melakukan perbuatan serupa. Pun demikian dengan cara dan waktu pemboman yang dilakukan pelaku. “Kalau dilihat memang pola dan cara yang dilakukan pelaku secara terbuka, apalagi ini dalam waktu yang orang bisa melihat dia secara terang benderang. Ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan melakukan dengan penuh kesadaran,” kata Pramono

 

 

 

Dari peristiwa tersebut, terdapat beberapa korban yang ke semuanya anak-anak. Setidaknya, satu orang meninggal dan tiga lainnya mendapatkan luka bakar. Mereka adalah IO (2 tahun/meninggal), TH (4 tahun/luka bakar), AA (4 tahun/luka bakar) dan AK (2 tahun/luka bakar). Saat ini, tiga nama terakhir masih dirawat di rumah sakit Abdul Muis, Samarinda. “Pemerintah pasti akan memberikan perhatian pada para korban,” kata Pramono.

 

 

 

Penulis: Andya Dhyaksa

 

Andya Dhyaksa
14-11-2016 16:46