Main Menu

Tubagus Hasanuddin: Napi Bebas Bersyarat Kok Bisa Ngebom?

Cavin Rubenstein M.
14-11-2016 23:15

Lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur (ANTARA/Amirulloh/HR02)

Jakarta, GATRAnews -- Kasus peledakan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu kemarin merupakan dampak dari kelalaian aparat keamanan dalam memantau pergerakan mantan narapidana kasus terorisme. 



Wakil Ketua Komisi I DPR-RI, Tubagus Hasanuddin mengungkapkan, satu dari tiga pelaku pelempar bom molotov yang tertangkap diketahui bernama Joh alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia.

Joh sendiri, kata Tubagus Hasanuddin, pernah dipenjara tahun 2012 lalu dalam kasus terorisme, yakni peledakan bom buku di Jakarta pada 2011. Joh  divonis 3,5 tahun dan dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 juli 2014.

"Kalau bebas bersyarat, berarti dia kan wajib lapor," kata Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya kepada GATRAnews. Lebih lanjut, pensiunan jenderal bintang dua ini mengaku heran lantaran napi teroris seperti Joh seolah tidak dipantau Polisi. "Kok dia bisa pergi ke Kalimantan. Apalagi sampai bisa ngebom," ujar Tubagus.

Oleh karena itu, Tubagus Hasanuddin meminta Polri, BIN dan BNPT untuk meningkatkan pengawasan terhadap jaringan orang-orang yang sudah masuk dalam daftar pengawasan terorisme atau jaringan lain yang pernah berhubungan.

Selain itu, data intelijen dari semua elemen intelijen dikompilasikan secara komprehensif, agar menghasilkan kesimpulan intelejen yang akurat.

"Data akurat itulah dapat digunakan untuk melakukan pemberantasan teroris di lapangan. Tanpa data akurat kita akan kecolongan," pungkas Tubagus Hasanuddin.

Minggu siang lalu, terjadi sebuah ledakan yang diduga berasal dari bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Akibat teror bom ini, satu anak balita berinisial IM meninggal dunia. Sementara tiga balita lainnya mengalami luka bakar.


 

 

Editor : Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
14-11-2016 23:15