Main Menu

Bumi dan Langit Beda Harga Obat Paten dan Obat Generik Sofosbuvir Hepatitis C

Averos Lubis
18-11-2016 15:11

Jakarta,GATRAnews- Terdapat perbedaan harga signifikan antara obat Sofosbuvir versi paten dengan versi generik. Sindi Putri, Staff Advokasi dari LSM Indonesia AIDS Coalition, menjelaskan bahwa obat Sofosbuvir versi paten diketahui dijual di pasaran dengan harga Rp 13 juta per butirnya.

 

Sementara obat Sofosbuvir generik bisa didapatkan di India dengan harga hanya Rp 52.000 setiap butirnya serta sudah termasuk dengan pasangannya yaitu Ribavirin. Maka perbedaan harga yang signifikan ini turut menjadi perhatian pula dari Koalisi Obat Murah serta banyak aktivis kesehatan di seluruh dunia.

 

Aktivis kesehatan, menurut Sindi, banyak memandang perusahaan pemilik paten obat Sofosbuvir telah bertindak sewenang-wenang. "Dengan menetapkan harga tanpa memperdulikan keberlangsungan nyawa jutaan pengidap Hepatitis C di seluruh dunia," ucapnya di Jakarata, Jumat (18/11).

 

Koalisi Obat Murah sendiri juga telah melayangkan surat resmi kepada Menteri Kesehatan untuk sesegera mungkin memasukkan obat Sofosbuvir ini dalam Formularium Nasional (Fornas) tambahan 2016. Sehingga obat ini kedepannya bisa ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) demi membuka akses pengobatan yang lebih luas bagi seluruh pengidap Hepatitis C ini di Indonesia.

 

“Kabar terakhir yang kami dapatkan, surat usulan agar obat Sofosbuvir ini bisa dimasukkan ke dalam Fornas tambahan 2016 sehingga bisa ditanggung oleh JKN sedang menunggu tanda tangan final dari Menteri Kesehatan. Kami sangat berharap bahwa surat usulan ini tidak terganjal oleh birokrasi di internal Kementerian Kesehatan sehingga kehadiran obat ini bisa secepatnya memberikan manfaat bagi jutaan pengidap Hepatitis C lainnya yang membutuhkan karena kemudian biayanya ditanggung oleh JKN” kata Sindi Putri.

 

IAC serta Koalisi Obat Murah, ia melanjutkan juga berharap agar kementerian kesehatan segera merevisi panduan pengobatan bagi penyakit Hepatitis C ini dengan memasukan opsi pengobatan menggunakan obat Sofosbuvir sehingga bisa sesegera mungkin menjadi acuan bagi dokter-dokter di seluruh Indonesia. Persoalan tingginya harga diagnosa pra-pengobatan yang diperlukan oleh pasien sebelum memulai pengobatan Hepatitis C juga merupakan sebuah tantangan yang harus segera dipecahkan oleh Kementerian Kesehatan.

 

"Diagnosa pra-pengobatan ini mencakup tes jumlah virus dan tipe virus hepatitis C yang menyerang tubuh pasien (HCV Genotype dan HCV RNA) serta tes guna mendeteksi tingkat kerusakan hati akibat infeksi virus eepatitis C ini (Fibroscan)," ujarnya.

 

Direktur LSM Indonesia AIDS Coalition, Aditya Wardhana menambahkan harapan untuk sembuh dari hepatitis C itu masih ada. Sekaranglah saatnya pemerintah harus benar-benar tunjukkan komitmennya dalam upaya melakukan kontrol serta eliminasi epidemi Hepatitis C dari Indonesia dengan menyediakan akses universal bagi setiap rakyat Indonesia. "Semisal kepada program pencegahan, diagnosa, serta pengobatan bagi setiap pengidap penyakit Hepatitis C," ucapnya.


Reporter: Averos Lubis

Editor : Taufik Alwie

Averos Lubis
18-11-2016 15:11