Main Menu

Ini Dia Kunci Kendalikan Epidemi AIDS

Flora Librayanti BR K
01-12-2016 22:37

Peringatan hari AIDS sedunia (ANTARA/Abriawan Abhe/HR02)

Jakarta, GATRANews - Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Berdasarkan permodelan yang dikeluarkan oleh badan PBB untuk HIV dan AIDS yaitu UNAIDS, di Indonesia terdapat 690.000 penduduk yang sebenarnya telah terinfeksi HIV. Namun, dari jumlah ini angka orang yang mengetahui status HIV-nya masih kecil sekali yaitu baru sekitar 30%.

 

Dari angka estimasi tersebut, data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa jumlah ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) yang saat ini menerima terapi pengobatan Anti Retro Viral (ARV) baru sekitar 8% atau sekitar 65.825 ODHA. Ini adalah angka yang paling kecil diantara negara-negara di region Asia Pacific.

 

LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC), sebagai mitra pemerintah dalam mengerjakan program penanggulangan AIDS menyuarakan pentingnya pemerintah untuk melipat gandakan upayanya dalam mendorong setiap warganegara untuk menjalani tes HIV dan sedini mungkin.

 

Selain itu juga agar melancarkan akses pengobatan ARV bagi orang yang telah terinfeksi virus ini. ARV selain bermanfaat bagi ODHA, juga akan bermanfaat bagi pengendalian infeksi dan penularan penyakit ini.

 

“Angka 8% adalah sebuah angka yang menjadi alarm bagi bangsa kita. Jika pemerintah tidak sesegera mungkin meningkatkan angka cakupan ini, maka Indonesia akan menjadi negara yang paling tertinggal dalam upaya pengendalian epidemic AIDS di wilayah Asia dan Pacific,” kata Direktur Eksekutif IAC, Aditya Wardhana dalam rilis yang diterima GATRANews hari ini, 1 Desemberi.

 

IAC menilai bahwa pemberian subsidi bagi pengobatan ARV kepada setiap ODHA yang membutuhkan, telah turut menyumbang kontribusi yang besar bagi menurunnya angka kematian pada ODHA yang disebabkan infeksi virus HIV ini. Selain itu, ODHA yang mendapatkan pengobatan ARV yang berkualitas telah terbukti tidak akan menularkan penyakitnya kepada orang lain.

 

Hal lain yang tidak kalah penting adalah pemerintah diharapkan juga menyediakan akses bersubsidi penuh bagi upaya tes laboratorium penunjang keberhasilan terapi seperti tes Viral Load untuk mengetahui keberhasilan terapi ARV yang dijalankan oleh ODHA sehingga ODHA termotivasi untuk patuh pada pengobatannya.

 

“Kami harap pemerintah untuk secara serius dan bersama-sama dengan kelompok organisasi pasien untuk melakukan upaya yang konsisten bagi pengurangan stigma dan diskriminasi sehingga setiap warga masyarakat tidak takut untuk memeriksakan status HIV serta sedini mungkin mendapatkan pengobatan ARV bagi mereka yang terinfeksi HIV,” sebut Aditya lagi.

 

Ini merupakan tantangan besar bagi Menteri Kesehatan untuk meyakinkan Kementerian Keuangan serta DPR guna memberikan persetujuan bagi peningkatan alokasi subsidi ini sehingga jumlah orang yang mengkonsumsi obat ARV bersubsidi bisa semakin besar. Tak lupa pula agar variasi obat ARV bersubsidi yang beredar bisa semakin banyak. Serta tes-tes monitoring keberhasilan pengobatan juga bisa disediakan secara meluas.

 

“Gagal dalam upaya di titik kritis ini akan menyebabkan Indonesia akan menanggung beban berat kedepannya, khususnya bila ancaman virus HIV kebal obat ARV menjadi kenyataan,” pungkas Aditya.


Reporter : Flora Libra Yanti

Editor : Taufik Alwie

Flora Librayanti BR K
01-12-2016 22:37