Main Menu

Bawa Benih Cabai Berbakteri, Mentan dan Imigrasi Didesak ‘Sweeping’ WN Cina

Wem Fernandez
09-12-2016 15:05

Menteri Pertanian Amran Sulaiman (GATRA/Agriana Ali/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Herman Khaeron meminta pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melakukan penertiban di bidang pertanian, khususnya dalam karantina hewan dan tumbuhan.


Hal ini menyusul ditemukannya benih cabai berbakteri yang dibawa oleh Warga Negara (WN) Cina ke Indonesia. Hasil uji laboratorium yang diterbitkan Balai Besar Karantina Pertanian pada 24 November 2016, benih cabai positif terinfeksi bakteri erwinia chrysantemi atau organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A1 golongan 1.
 
"Kita harus tegas, dan jika melihat kasusnya maka perlu dilakukan penertiban di sektor pertanian, baik terhadap perkarantinaan maupun keimigrasian WNA-nya. Di Kementan juga ada PPNS bisa segera turun, namun jika kurang memadai bisa berkoordinasi dengan pihak kepolisian," tegas Herman saat dihubungi GATRAnews, Jumat (9/12) tadi.
 
Selain benih cabai, petugas juga menemukan bawang daun dan sawi hijau yang dibawa oleh WN Cina tersebut. Tanaman berbakteri, kemudian dumusnahkan dengan cara dibakar dengan incinerator di Instalasi Karantina Hewan Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta.
 
Pun WN Cina yang datang menggunakan paspor wisata. Mereka melakukan aktivitas menanam secara ilegal di lokasi perbukitan Desa Sukadamai, Kecamatan Sukmakmur, Kabupaten Bogor.
 
“Ke depan harus hati-hati dengan masuknya komoditas dari negara lain apalagi dalam bentuk benih yang membawa penyakit dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lainnya. Saya menduga masih banyak WNA lainya yang perlu diverifikasi keberadaannya dan kalau melanggar peraturan perundang-undangan harus ditindak tegas,” ucap politisi Partai Demokrat ini.
 
Kasus ini bisa dibongkar berkat kerja sama apik antara Kantor Imigrasi Kelas I Bogor dan Tim Pengawasan dan Penindakan (P2) Badan Karantina Pertanian. Empat orang WN Cina ditangkap pada 8 November 2016 lalu saat melakukan aktivitas bercocok tanam di lokasi.


Reporter: Wem Fernandez 
Editor: Arief Prasetyo

Wem Fernandez
09-12-2016 15:05