Main Menu

Kemenkes: Jumlah Perokok Muda Meningkat Lebih dari 30% Tiap Tahun

Fahrio Rizaldi A.
30-01-2017 22:40

Ilustrasi Rokok (GATRA/Dharma Wijayanto)

Jakarta, GATRAnews - Kebiasaan merokok sudah menjadi budaya bagi sebagian masyarakat Indonesia. Data yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, jumlah perokok aktif terus meningkat setiap tahunnya. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Dwi Sriwahyuni Sulistyowati menyebutkan, jumlah perokok dalam 20 tahun terakhir ini meningkat dari 27%, menjadi 36,3%. Angka ini termasuk peningkatan yang dialami perokok muda usia 15 tahun ke atas.



"Memang benar, rokok itu menyebabkan adiksi. Perokok sangat ketergantungan, karena zat yang keluar dari tembakau yang dibakar telah menempel di bagian syaraf otak. Di samping itu, ada kepentingan industri yang cukup kuat untuk membuat masyarakat terus merokok," ujar Dwi, Jum`at (27/1), di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Sebenarnya, Kemenkes telah menemukan bahwa sebagian besar perokok memiliki keinginan untuk berhenti. Namun, lingkungan sekitar membuat mereka sangat sulit meninggalkan produk tembakau tersebut. "Kami selalu mengadakan konseling untuk berhenti merokok. Tapi, keinginan untuk merokok sulit dihilangkan karena lingkungan. Harga rokok tetap murah, bahkan bisa diecer di warung, ini mendorong anak muda semakin banyak menjadi perokok. Mungkin ini strategi, perusahaan tentu punya tujuan untuk menambah konsumennya," jelasnya.

Sementara, Ketua Divisi Penyakit Paru, Kerja, dan Linkungan RSUP Persahabatan Agus Dwi Susanto menjelaskan, penyakit yang diakibatkan rokok semakin menempati peringkat tertinggi di Indonesia.

Dalam kurun waktu setahun, terjadi sekitar 2000 kasus penyakit tidak menular, seperti kanker paru, dan jantung. "Data yang dihimpun selama tahun 2015 sampai 2016, dari 2000 kasus, 83,6% di antaranya adalah perokok. Untuk penyakit kanker tenggorokan, stroke, dan bergeur, 80%-nya juga dialami perokok. Ini sudah jelas, bahan yang terkandung di dalam rokok itu berbahaya, tiap batangnya mengandung tar, nikotin, dan carbon monoxida. Zat-zat ini mengendap di pembuluh darah kecil," jelasnya.

Agus juga mengakui bahwa hanya ada 5% perokok yang akhirnya benar-benar berhenti merokok. Padahal, kata dia, 50 sampai 70% perokok mengungkapkan keinginan untuk segera berhenti. "Yang terpenting adalah motivasi, mengubah prilaku hidup, dan menjauhi rokok. Merokok itu dipengaruhi dari aspek adiksi, sosial, dan lingkungan. Para perokok seharusnya mempertimbangkan dampak buruk asap rokok yang bisa menimpa orang di sekitar mereka," tukas Agus.



Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Edward Luhukay

Fahrio Rizaldi A.
30-01-2017 22:40