Main Menu

Indonesia-Rusia Barter Sukhoi dengan Komoditas Perkebunan

Ervan
22-08-2017 19:15

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (GATRA/Agriana Ali/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah melalui Kementrian Pertahanan (Kemhan) dan Kementrian Perdagangan (Kemendag) berencana melakukan pertukaran (barter) pesawat tempur Sukhoi Su-35 dengan hasil perkebunan Indonesia seperti karet, sawit dan lainnya lewat skema imbal dagang (counter trade).  

Nilai pembelian SU-35 ini mencapai US$ 1,14 miliar. Pembelian Sukhoi memberikan potensi ekspor ke Rusia bagi Indonesia sebesar 50% dari nilai pembelian tersebut, atau senilai US$ 570 juta.

"Saya mendapat kesempatan sehingga bisa menindaklanjuti. Kementerian Pertahanan telah tetapkan untuk membeli Sukhoi. Ada sejumlah persentase tertentu untuk imbal dagang," jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (22/8).

Nantinya, Indonesia akan mendapatkan 11 unit SU-35 lewat skema government to government. "Ini pertama kali kita laksanakan UU secara konsekuen. Pembelian ini sesuai aturan UU, tadinya dapat 8 sekarang dapat 11, bertambah 3. Ini G to G (kerjasama antar pemerintah) langsung. Jadi ada nilai tambah," kata Menhan Ryamizard Ryacudu.

Rencana imbal dagang ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Tak hanya itu, hal ini juga didukung oleh Peraturan Pemerintah Nomor 76 tahun 2014 tentang Mekanisme Imbal Dagang Dalam Pengadaan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan Dari Luar Negeri.  "Terapkan UU ini butuh political will yang kuat. Ini nanti neraca perdagangan kita kalau tidak ini malah memperkuat pengeluaran," lanjutnya. Pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 itu direncanakan menggantikan armada F-5 Indonesia yang sudah usang. 


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Nur Hidayat

 

 

Ervan
22-08-2017 19:15