Main Menu

Ini Tanggapan Almamater Dwi Hartanto, Akprind Yogya soal Prestasi Hoax

Nur Hidayat
09-10-2017 14:41

Rektor Akprind Yogyakarta, Amir Hamzah menunjukkan salinan ijazah Dwi Hartanto (GATRAfoto/Arif Koes Hernawan)

Yogyakarta, Gatra.com - Kebohongan mahasiswa Indonesia di TU Delft, Belanda, yang disebut sebagai "The Next Habibie", yakni Dwi Hartanto,  mendapat respon dari almamaternya. Sebagai sarjana Institut Sains dan Teknologi "Akprind" Yogyakarta, Dwi mengaku lulusan UGM dan universitas di Tokyo. Rektor Akprind Amir Hamzah mengatakan ia telah membaca kisah sukses Dwi sekitar setahun lalu.

Sejumlah staf kampus, termasuk Amir yang dosen informatika, langsung mengenali Dwi sebagai mahasiswa prodi dan jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri tahun 2001-2005. Sejak itu, nama Dwi menjadi populer di kalangan kampus Akprind dan alumni. "Ketika pertama mencuat, saya bangga tapi ada perasaan agak kecewa, masgul, kenapa tidak membawa nama Akprind. Padahal bisa S2 itu karena S1 dulu di sini," kata Amir saat ditemui Gatra.com di kantornya.

Karena prestasi Dwi itu, pihak kampus coba menghubungi dan berniat mengundang Dwi untuk ke kampus guna memberi motivasi pada para mahasiswa. "Sampai ada yang berniat memasang spanduk kampus ini sebagai kampus The Next Habibie," ujar Amir.

Namun usaha itu gagal. Upaya melacak nomor kontak Dwi tidak berbuah. Sampai kemudian terungkap, Dwi melakukan serangkaian kebohongan. "Tapi dia tidak pernah melakukan hal tidak terpuji selama kuliah di Akprind," ujar Amir sambil menunjukkan fotokopi ijazah Dwi yang tercatat lahir di Madiun, 13 Maret 1982.

Selama belajar di Akprind, Dwi menggawangi tim robot hingga menyabet juara di kontes Robot Indonesia di Universitas Indonesia pada 2004. Mewakili Akprind, ia juga pernah meraih gelar mahasiswa berprestasi untuk Kopertis V. Dwi sempat mengajukan untuk ikut program pertukaran mahasiswa di luar negeri. Tapi, menurut Amir, penerimaan program itu diumumkan setelah Dwi lulus.

Amir berjanji menyelidiki soal informasi yang menyebut bahwa Dwi juga berbuat curang untuk bisa ke luar negeri waktu itu. "Kami akan cari itu. Saya juga baru satu tahun menjadi rektor," kata Amir.

Riset robot lantas menjadi materi skripsi Dwi dengan judul "Robot Cerdas Pemadam Api". Dwi lulus dengan indeks prestasi  kumulatif 3,88. Dwi menjadi lulusan terbaik Akprind pada 15 November 2005 dengan gelar sarjana komputer. Sejak itu, menurut pihak Akprind, Dwi tidak pernah hadir dan berkomunikasi dengan almamaternya.

"Kami kecewa tapi tidak bisa berbuat banyak karena (pembohongan) ini terjadi jauh setelah lulus. Kalau mau mencabut gelar S1-nya, itu kalau dia curang waktu skripsi dan itu tidak terjadi," kata dia.

Saat ini, menurut Amir, Akprind hanya bisa melakukan koordinasi dengan pihak senat dan yayasan untuk membahas masalah ini. "Kami mengakui Dwi mahasiswa kami yang berprestasi, tapi seluruh tindakan menjadi tanggung jawab dia karena di luar kemampuan kami mengawasi. Yang jelas,  pendidikan kami mengedepankan etika dan  kejujuran," tutur Amir.

Menurut Amir, kasus ini bukan hanya menjadi masalah di Apkrind. "Kasus ini menjadi pukulan bagi pendidikan nasional dalam hal etika dan jujuran," kata rektor dari kampus dengan tiga fakultas dan 3800-an mahasiswa ini. Akprind berencana menggelar jumpa pers untuk menjelaskan hal ini, Selasa (10/10).⁠⁠⁠⁠ 


Reporter: Arif Koes Hernawan

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
09-10-2017 14:41