Main Menu

IDI: Asmat Butuh Program Kesehatan Berkelanjutan

Dewi Fadhilah Soemanagara
18-01-2018 23:15

Wabah campak (dok. humas Dompet Dhuafa/yus4)

Papua, Gatra.com -- Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berkolaborasi memberikan bantuan kemanusiaan dalam bentuk Pos Layanan Kesehatan dan Pojok Nutrisi Keluarga.

Kedua program ini merupakan insiatif bersama dan akan diimplementasikan segera, mengingat kondisi di Distrik Agat, Kabupaten Asmat, Papua yang sedang darurat wabah campak serta gizi buruk.

Tim pertama yang terdiri dari 2 orang dokter Safitri Rahmadani dan dokter Rahmadani dan satu orang petugas kesehatan Tumijan dari Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua sudah bekerja. 

Salah satu yang dilakukan, memberi Rapid Health Assessment atau mengumpulkan data terkait dampak wabah Campak dan Gizi Buruk, yang akan menjadi rekomendasi untuk penentuan program prioritas kolaborasi Dompet Dhuafa dan IDI.

Agenda awal tim akan melakukan koordinasi ke posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk. Posko tersebut merupakan tempat berkumpulnya tim kemanusiaan untuk kasus ini. Posko ini bertempat di distrik Agat, Kantor Dinas Kesehatan, dan Gedung Pendidikan Wawasan Kebangsaan Worou Cem.

"Tim juga akan berkoordinasi dengan dr. Steven Langi, Kabid Kesmas Dinkes Kab. Asmat yang juga menjadi Penanggung jawab Satgas Penanggulangan KLB." ujar dr. Fitri, sebagai ketua Tim pada Kamis sore, (18/01) sebagaimana dikutip dari siaran pers Dompet Dhuafa.

Saat ini rencana awal tim adalah menginisiasi Pos Layanan Kesehatan dan Pojok Nutrisi Keluarga.

Melalui kerjasama ini juga akan dilakukan penanganan kasus gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat dengan mendirikan Layanan Kesehatan dan Pojok Nutrisi Keluarga.  

"Di dalamnya akan ada pelayanan yang lebih holistik untuk penanganan dan pencegahan gizi buruk dan campak.” ujar dr. Rosita Rivai, General Manager Program Kesehatan Dompet Dhuafa.

 

Senada dengan dr.Rosita, Sekretaris Jenderal PB IDI dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT, menegaskan bahwa program yang akan dijalankan harus bersifat berkelanjutan.

"Karenanya, ini adalah kerjasama lanjutan setelah sebelumnya Dompet Dhuafa dan IDI menjalankan kerjasama dalam respon kemanusiaan untuk para Pengungsi Rohingya," kata dr Adib. 

Dalam kasus Asmat ini, program yang dijalankan nantinya merupakan program yang tidak hanya sekadar hadir dan selesai, tapi program yang berkelanjutan.

"Akan ada program pemberdayaan dan program edukasi untuk masyarakat setempat, sehingga dapat membangun kesadaran masyarakat lokal dalam menangani kasus yang dihadapi saat ini," ujarnya. 


Reporter : DFS

Editor : Mukhlison

Dewi Fadhilah Soemanagara
18-01-2018 23:15