Main Menu

Ini Kata Pakar Teknik Sipil Tentang Rubuhnya Selasar BEI

Dewi Fadhilah Soemanagara
20-01-2018 15:53

Olah TKP Tower II BEI (Antara/Dhemas Reviyanto/yus4)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com -- Kecelakaan runtuhnya lantai mezzanine yang terjadi pada Senin (15/1) lalu di Selasar Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Lantai 1 Tower 2 yang memakan korban sebanyak 77 orang luka,  masih ditindaklanjuti oleh pihak pengelola gedung BEI (PT. First Jakarta International) dengan pihak Polda Metro Jaya. 

Pada Jumat (19/1), aktivitas di Tower 1 tampak berjalan seperti biasa. Banyak karyawan dan pengunjung gedung yang masuk melalui jalur pemeriksaan yang berbeda. Beberapa orang petugas keamanan juga berjaga-jaga di pintu masuk, serta memeriksa barang bawaan pengunjung gedung dengan seksama lewat mesin pemindai X-Ray dan Walk Through Metal Detector yang menjadi prosedur operasional standar pengecekan keamanan di gedung-gedung perkantoran dan sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta.

Prof. Sarwono Hardjomuljadi, Pakar Teknik Sipil yang juga Guru Besar Tetap Universitas Mercu Buana Bidang Manajemen Konstruksi, menuturkan pada Gatra.com penyebab runtuhnya lantai selasar Bursa Efek Indonesia tersebut.

Menurut Sarwono, runtuhnya lantai selasar tersebut murni karena tidak bisa menahan beban kerumunan orang yang berdiri diam di atasnya. Karena menurutnya, selasar tersebut didesain hanya untuk orang berjalan, bukan berdiam di satu titik dalam waktu lama. 

"Itu kan bangunan tambahan ya,  terus bebannya kalau kita lihat di video yang beredar, bebannya kan mestinya orang tidak berdiri disitu. Itu kan untuk berjalan (lewat) saja. Mestinya hanya untuk berjalan. Karena banyak yang berdiam ya ambruk," ujar Sarwono pada GATRA, Jumat (19/1) melalui sambungan telepon.

Pembangunan Gedung Bursa Efek Indonesia yang sebelumnya bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ) ini diidentifikasi dengan nama proyek “Indonesia Stock Exchange”. Tower I selesai dibangun pada 1994, sedangkan Tower II selesai dibangun pada 1998. Total luas area proyek BEI 25.280 meter persegi. Tower I dirancang setinggi 140 meter mencakup 32 lantai. Demikian halnya dengan Tower II yang juga setinggi 140 meter terdiri dari 32 lantai. Manajemen pembangunan dikelola oleh PT. First Jakarta International.

Sarwono juga menuturkan komentarnya terkait konstruksi bangunan BEI tersebut. Desainnya yang tidak konvensional dan beratnya tumpuan beban di satu titik akhirnya menyebabkan tali sling terlepas dan selasar seketika ambruk dalam hitungan detik.

"Caranya kan disanggah oleh pantiles konstruksi bawah dan digantung tho, karena masang konstruksi seperti itu harus ada ketelitian juga. Itu kan besinya di ground, di sementasi. Sementasinya harus bagus, kokoh, quality controlnya baik. Konstruksinya bukan konstruksi konvensional, kalau konvensional kan besinya disanggah dari bawah ya. Nah itu aja. Tapi kalau ini sih karena beban berlebih kok saya lihat," tutup Sarwono.


Reporter: DFS

Editor: Rosyid

Dewi Fadhilah Soemanagara
20-01-2018 15:53