Main Menu

Pengawasan terhadap Perusahaan Belum Daftar BPJS Masih Sulit

Flora Librayanti BR K
15-02-2018 18:17

Ilustrasi(GATRA/Ardi Widi Yansah/re1)

Jakarta, Gatra.com - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Republik Indonesia hanya memiliki 1.600 pengawas ketenagakerjaan di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut sangat jauh dari kata ideal jika dibandingkan dengan objek yang akan diawasi yakni 150 juta angkatan kerja dan 20 juta perusahaan bersakala besar hingga kecil.



Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Keselamatan dan Kesehatan Kemenaker, Sugeng Priyanto menginginkan pengawas ketenagakerjaan yang berstatus penyidik pengawai negeri sipil (PPNS) itu bertambah karena jumlahnya tidak memadai.

“Kalau kita bicara ideal, tugas pengawas itu mirip-mirip tugas polisi ya. Karena saya polisi, saya tahu perbandingan idealnya. Berdasarkan standar PBB, pengawasan itu, 1 polisi untuk 350 orang. Jadi masih jauh sekali,” kata mantan Kapolda Bali ini usai meneken perjanjian kerjasama antara Kemenaker dengan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan di Hotel Fairmont Jakarta Pusat, Kamis (15/2).

Ketika ada pemberitaan terkait kecelakaan kerja, kata Sugeng, ada media yang menulis pengawasnya "tidur". Hal itu terjadi lantaran memang pengawasnya sedikit. Kedepannya, Kemenaker ingin sekali meningkatkan jumlah pengawas ketenagakerjaan ini.

Direktur Kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan, Elyas Lubis menambahkan bahwa saat ini baru 448.000 perusahaan pemberi kerja yang mendaftarkan pegawainya ke dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan. Padahal seperti yang dikatakan Sugeng tadi jumlah perusahaan yang diawasi Kemenaker berjumlah 20 juta. Artinya masih jauh panggang dari api.

Elyas mengatakan 448.000 perusahaan itu rata-rata adalah perusahaan besar. Target BPJS TK hingga akhir tahun 2018 adalah 700.000 perusahaan pemberi kerja sudah mendaftarkan pekerjanya.

“Perusahaan yang belum itu kebanyakan perusahaan skala kecil dan mikro. Sekarang kita menyasar ke sana. Kami tentunya mengutamakan edukasi dan sosialisasi,” katanya.




Reporter :  DPU
Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
15-02-2018 18:17