Main Menu

Presiden Jokowi: Revolusi Mental Bukan Jargon Yang Perlu Diiklankan

Hendry Roris P. Sianturi
06-04-2018 16:52

Presiden RI Joko Widodo mengatakan gagasan revolusi mental bukanlah jargon yang perlu diiklankan secara terus-menerus.(Dok.Biro Pres/RT)

Jakarta, Gatra.com - Presiden RI Joko Widodo mengatakan gagasan revolusi mental bukanlah jargon yang perlu diiklankan secara terus-menerus. "Revolusi mental bukan jargon seperti masa-masa lalu yang perlu diteriak-teriakan terus atau diiklan-iklankan terus. Saya kira bukan itu," ujar Jokowi dalam dialog dengan seniman dan budayawan di halaman Istana Merdeka, Jumat (06/04).

 

Hal itu disampaikan Jokowi, merespon pernyataan seniman I Gusti Ngurah Putu Wijaya (Putu Wijaya). Putu Wijaya mengomentari implementasi revolusi mental Jokowi. Menurut Putu, Jokowi telah berhasil melakukan revolusi mental.

"Saya ingin mengomentari bahwa revolusi mental yang bapak berikan itu, sudah terjadi dengan penampilan bapak dengan mengubah Istana Presiden tidak sakral lagi tapi menjadi lebih intim dengan rakyat," ujar Putu.

Dalam pertemuan itu, Jokowi juga menyampaikan bahwa perilaku memberi contoh lebih baik daripada teriak-teriak. "Saya kira memberikan contoh lebih baik dari kita berteriak. Bagaimana bekerja yang baik, nilai etos yang baik. Itu yang ke depan akan kita gerakkan," katanya.

Presiden ketujuh RI tersebut juga berjanji, setelah gencar melakukan investasi di sektor infrastruktur, pemerintah akan memulai membuka investasi di bidang sumber daya manusia.

''Yang di dalamnya, bahwa kebudayaan itu menjadi sebuah pondasi. Artinya nilai-nilai yang kita miliki, itu akan menentukan bangsa ini bisa berkompetisi dengan negara lain atau tidak. Baik yang berkaitan dengn nilai-nilai budaya, baik nilai-nilai karakter dan budi pekerti yang kita miliki," ujarnya.

Penulis: Hendry Roris P. Sianturi

Editor: G.A. Guritno

Hendry Roris P. Sianturi
06-04-2018 16:52