Main Menu

Jogja Jadi Tuan Rumah Pertemuan tentang Hutan se-Asia Pasifik

Mukhlison Sri Widodo
24-04-2018 05:18

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Hujan Asia Pasifik ke-3 di Yogyakarta. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Indonesia akan membawa isu pentingnya hutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dalam Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Hujan Asia Pasifik ke-3 (3rd Asia Pacific Rainforest Summit) pada 23-25 April di Yogyakarta. 

 

Dalam sambutan pembukaan konferensi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan pemerintah Indonesia berkomitmen mewujudkan peningkatan ekonomi masyarakat melalui program kehutanan sosial. 

“Sampai 2019, pemerintah telah menyediakan 4,2 juta lahan hutan sebagai pendukung ekonomi masyarakat. Angka ini bagian dari komitmen Indonesia menyediakan 12,7 hektar pada 2030 untuk dunia,” ujarnya.

Kawasan hutan ini  diberikan kepada masyarakat melalui skema hutan adat, hutan desa, hutan kemasyarakat, hutan tanaman rakyat, dan kemitraan kehutanan.

Sebagai program pendukung pertumbuhan ekonomi berbasis kehutanan, pemerintah akan mendukung gerakan yang berbasis pada jasa lingkungan di sektor ekowisata dan konservasi keanekaragaman hayati.

“Bagi Indonesia, hutan adalah rumah dari keanekaragaman hayati yang dapat digunakan sebagai area penelitian konservasi dan pengelolaannya mengedepankan prinsip kelestarian,” katanya.

Selain sebagai pendukung peningkatan ekonomi masyarakat, hutan juga menjadi bagian program perbaikan ekologi serta pengurangan emisi gas rumah kaca 26-28 persen pada 2030.

Siti juga menjelaskan, salah satu upaya pemerintah meningkatkan ekonomi dari sektor kehutanan adalah mempromosikan kayu hasil hutan Indonesia yang sudah masuk Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SLVK) ke kancah internasional.

Menurut Siti, melalui pelaksanaan  konferensi  ketiga kali ini, setelah di Australia (2014) dan Brunei Darussalam (2016), Indonesia dapat belajar bersama dengan negara-negara lain untuk mengembalikan bentang lahan yang terdegradasi juga perlindungan kawasan hutan yang bernilai tinggi.

“Tidak hanya itu, kita juga bisa saling memformulasikan kebijakan nasional, terutama dengan Australia, yang terlebih dahulu menyelamatkan hutan karena sebagai harta paling berharga di dunia,” katanya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Energi Australia, The Thon Josh Frydenberg menyebut konferensi ini menjadi wadah yang tepat bagi negara-negara Asia-Pasifik untuk membangun kemitraan dalam melawan deforestasi dan degradasi hutan.

“Keberadaan hutan sebagai paru-paru dunia menjadi sangat penting bersama keluarnya Perjanjian Perubahan Iklim Paris. Kehadiran Autralia di sini sebagai upaya membantu negara-negara di kawasan ini memenuhi komitmennya di Perjanjian Paris,” jelasnya.

Menjaga hutan hujan, bagi Australia menjadi isu strategi dalam perubahan dunia karena setiap tahun di kawasan Asia-Pasifik terdapat satu milyar ton CO2 yang dilepaskan ke alam bebas akibat deforestasi dan degradasi tanah. 

Angka ini menyumbang sekitar 10 persen dari emisi gas rumah kaca di seluruh dunia.

Josh berharap dalam konferensi tingkat tinggi ini, negara-negara di Asia-Pasifik berkomitmen melindungi kawasan hutan dan menurunkan emisi karbon global.

Mengambil tema ‘Melindungi Hutan dan Masyarakat Mendukung Pertumbuhan Ekonomi, para peneliti dan praktisi hutan, lahan gambut, mangrove dan karbon biru, kehutanan masyarakat, ekowisata dan konservasi keanekaragaman hayati, hutan produksi, investasi, dan perdagangan akan saling bertukar pemikiran.

Konferensi ini akan merumuskan kebijakan nasional mengurangi kehilangan hutan hujan dan mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
24-04-2018 05:18