Main Menu

Dukung Industri Petrokimia, Pemerintah Bangun 50 Proyek Migas

Mukhlison Sri Widodo
25-04-2018 16:09

Ketua SKK Migas Amien Sunaryadi menyatakan selama ini industri petrokimia hampir 90% menggunakan bahan baku impor, khususnya nafta dan minyak mentah olah. (Dok.SKKMIGAS/RT)

Yogyakarta, Gatra.com - Sebagai percepatan pemenuhan bahan baku industri petrokimia, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membangun 50 proyek hulu hingga sepuluh tahun mendatang.

 

Ketua SKK Migas Amien Sunaryadi menyatakan selama ini industri petrokimia hampir 90% menggunakan bahan baku impor, khususnya nafta dan minyak mentah olah.

“Jika tidak segera mendapat perhatian, kondisi ini akan berdampak pada kurangnya cadangan devisa kita,” jelas Amien saat membuka Forum Fasilitas Produksi Migas 2018 (FFPM) di Yogyakarta, Rabu (25/4).

Karena itu, selama satu dekade ke depan pemerintah menargetkan  50 proyek hulu migas dibangun.

Sebab, Amien menyatakan total kapasitas produksi nasional saat ini 84.700 barel per hari untuk minyak bumi dan 6.100 juta standar kaki kubik per hari untuk gas bumi.

Dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp 160 trilyun, proyek ini terdiri atas 20 proyek di darat dan 30 proyek lepas pantai. Nilai ini belum termasuk investasi yang masuk ke proyek gas abadi Blok Masela.

“Proyek ini diharapkan mampu memperpanjang rantai produksi migas. Sehingga tidak hanya menghasilkan migas, namun berbagai produk yang sudah terdiversifikasi,” lanjut Amien.

Mengenai produsen bahan-bahan petrokimia, Amien menyatakan baru satu perusahaan yang beroperasi yaitu PT Chandra Asri Petrochemichal. 

Saat ini pemerintah berusaha membangun pabrik penyedia bahan dasar petrokimia yang memiliki akses transportasi dan dekat sumber air.

Direktur Eksekutif Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFPMI) Edwin Badrusomad menyatakan fokus acara ini mencari solusi atas masalah pemenuhan bahan dasar industri petrokimia.

“Sekarang kami tidak bisa tutup mata, bahwa saat ini produsen dalam negeri memang belum bisa memenuhi bahan dasar industri petrokimia. Padahal setiap tahun permintaan  produk petrokimia meningkat,” jelas Edwin. 

Persoalan ini akan dibahas dalam pertemuan ini. Para peserta akan mencari cara menumbuhkan  industri petrokimia di tengah turunnya harga minyak dan upaya pembangunan sarana pendukung migas oleh pemerintah.

“Kami berharap muncul kesamaan visi dan misi dari pengambil kebijakan maupun pelaku,” tuturnya.

Acara bertema ‘Optimasi Desain, Proyek, dan Pemeliharaan Fasilitas Produksi Migas' 2018 ini diharap menghasilkan terobosan dalam efisiensi di tengah iklim usaha yang kompetitif.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
25-04-2018 16:09