Main Menu

Logika Sederhana Menaker Jawab Isu Banjir TKA Cina

Iwan Sutiawan
29-04-2018 03:05

Menaker Hanif Dhakiri (tengah) dalam diskusi Buruh Pasca-Reformasi). (GATRA/Iwan Sutiawan/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri memberikan contoh sederhana untuk menjawab apakah mungkin investor luar negeri, khususnya Cina sengaja memasukkan tenaga kerja asal negaranya secara besar-besaran untuk mengerjakan proyek investasinya di Indonesia.

Hanif saat menjadi narasumber dalam diskusi tentang Buruh Pasca-Reformasi di Jakarta, Sabtu malam (28/4), mengumpamakan, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea yang juga menjadi narasumber, merupakan seorang pengusaha yang akan membangun smelter di Thailand.

"Contoh, misalnya Andi sebagai investor akan membangun smelter di Thailand membutuhkan 5.000 tenaga kerja," ujarnya dalam diskusi yang digelar Perhimpunan Aktivis Nasional (PENA) 98 ini.

Lantas, Hanif menanyakan apakah Andi selaku pengusaha akan membawa 5.000 orang tenaga kerja asal Indonesia ke Thailand untuk membangun smelter. Andi dan Hanif sama-sama menjawab tidak mungkin.

"Enggak mungkin. Biayanya mahal. Itu logika bisnis, itu logika orang berusaha. Kalau secara bisnis saja tidak masuk, terus kita percaya, kan aneh. Andi investasi di Thailand, 5.000 tenaga kerja diisi dari Indonesia, kan bangkrut dia sebagi pengusah," ujarnya.

Lantas apakah Andi akan menggunakan 100% pekerja lokal atau asal Thailand untuk menggarap proyeknya, menurut Hanif, ini juga tidak mungkin, karena Andi mempunyai kepentingan agar proyeknya berjalan sesuai yang telah direncanakan.

"Bahwa kemudian dari bagian investasi juga ada bagian yang diambil juga oleh tenaga kerja asing [TKA], itu tentu bagian kecil saja. Andi jika tidak bawa sama sekali orang dari Indonesia, enggak mungkin juga, karena dia tanamkan uang trilyunan rupiah misalnya, dia tentunya ingin uangnya aman, pekerjaannya selesai secara baik, tepat waktu," katanya.

Dari jumlah 5.000 tenaga kerja yang dibutuhkan, mungkin Andi akan membawa 300 orang tenaga kerja dari Indonesia dan itupun bukan pekerja kasar. "Lalu sisanya dari mana, ya dari Thailand, warga lokal. Ini logika sederhana pengusaha," ujarnya.

Menurut Hanif, contoh paling nyata soal TKA asal Cina di Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang banyak diributkan oleh kubu tertentu karena mencapai sekitar 2.100 orang. Sementara dari warga setempat atau lokalnya sekitar 21.000 orang. "Nah, berarti mayoritasnya orang kita," ujarnya.

Hanif menjelaskan, tidak mungkin investor membawa tenaga kerja sebanyak-banyaknya dari negaranya, karena dia pasti harus menanggung biaya yang sangat mahal. Mulai dari tiket pesawat, penginapan, tempat tinggal, dan lain sebagainya. "Maksud saya, kalau mau ributin yang proporsional saja," ujarnya.

Senada dengan Hanif, Andi mengatakan, bahwa perusahaannya yakni PT Perusahaan Pembangunan (PP) Persero sedang menggarp invstasi di 3 negara, sehingga membawa TKI ke negara tersebut.

"Kita mikir, bawa banyak pekerja, biaya pesawat, pondokannya, gaji, kompensasi. Di setiap negara penempatan, pasti kita sudah tahu uang jaminan," ujarnya.

Ia menambahkan, "Enggak mungkin saya sebagai pimpinan PP bawa 100% orang Indonesia. Harus pikirin ongkos pesawat pulang-pergi, kalau sakit kita tanggung, belum rumahnya, mending pilih warga lokal," katanya.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
29-04-2018 03:05