Main Menu

May Day, KSPSI Fokus di Isu Buruh, Takkan Deklarasi Ganti Presiden

Iwan Sutiawan
29-04-2018 10:21

residen KSPSI, Andi Gani Nena Wea (kedua dari kiri). (GATRA/Iwan Sutiawan/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, mengatakan, aksi peringatan Hari Buruh se-Dunia (May Day) yang diusung pihaknya tetap pada isu mengkritisi pemerintah soal buruh dan tidak akan mendeklarasikan minta ganti presiden seperti serikat buruh sebelah.

"Kalaupun ada satu sisi, mau deklarasi ganti presiden katanya. Saya berkomunikasi biasa saja. Bung, mau ganti presiden, saya bilang, kalau saya tetap Jokowi," kata Andi saat menjadi narasumber dalam diskusi Buruh Pasca-Reformasi di Jakarta, Sabtu malam (28/4).

Menurutnya, perbedaan pendapat soal politik itu merupakan hal wajar sebagai bentuk demokrasi di negeri ini.
"Itu demokrasi, enggak boleh dilarang juga, saya larang dia enggak boleh, dia larang saya enggak boleh. Itu saling menyadari itu satu hal hakiki dari demokrasi," ujarnya.

Fokus isu KSPSI untuk Mey Day pada 1 Mei lusa di Istana Negara dan seluruh Indonesia, tetap mengkritisi soal masalah perburuhan di Tanah Air, meskipun Andi merupakan bagian dari pendukung pemerintah saat ini.

"Isu yang akan diambil adalah kritisi pemerintah walaupun saya bagian dari pemerintah. Hanif Dhakiri dan Jokowi terbuka, tetapi akan kita kritisi bagaimana memperbaiki metode pengupahan, pengawasan demi mensejahterakan buruh," ujarnya dalam acara yang digelar PENA 98 itu.

Andi menceritakan, bahwa ada beberapa isu yang menyatukan seluruh buruh, di antaranya soal pengesahan BPJS pada 2010 dan pilkada DKI Jakarta 2012 kemarin yakni mendukung Jokowi. "Ada yang menyatukan kami, yaitu Jokowi. Said Iqbal [Presiden KSPI] juga adalah relawan buruh sahabat Jokowi," ujarnya.

Namun perbedan cara pandang politik pada pilpres 2014, lanjut Andi, Iqbal mendukung Prabowo. "Saya mengambil garis tegas Jokowi, Iqbal sama Prabowo. Itu kenyataan bahwa itu biasa dalam demokrasi. Ketika ada isu sama, kita turun lagi bersama. Tapi ketika saat pandangan politik tidak bisa disatukan, kita pisah lagi. Jadi tidak ada sesuatu mengikat di gerakan buruh," katanya.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
29-04-2018 10:21