Main Menu

Badan Bahasa Kemdikbud : Ini Dia Plus dan Minusnya Era Kamus Digital

Birny Birdieni
03-05-2018 17:43

Kepala Badan Bahasa Kemdikbud Dadang Sunendar. (Dok.Badan Bahasa Kemdikbud/RT)

Jakarta, Gatra.com- Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dadang Sunendar mengingatkan bahwa peralihan dari kamus cetak ke versi digital menjadi hal yang harus diperhatikan. "Kini sebagian besar masyarakat tidak memerlukan lagi kamus cetak, terutama di kota-kota besar," ungkapnya dalam Seminar "Perkembangan Leksikografi di Indonesia dan Kebijakan Penyusunan KBBI", Kamis (5/3).

 

Itulah yang akhirnya membuat Badan Bahasa meluncurkan versi daring yang diakses di laman kbbi.kemdikbud.go.id. "pemanfaatan era digital ini untuk mempermudah masyarakat dalam keperluan akademisi atau rujukan pemakaian bahasa Indonesia tepat," ungkap Dadang.

 

Dalam acara seminar ini agenda utamanya adalah melaksanakan kuliah umum dengan pembicara Dr. Michael Rundell, pemimpin redaksi Kamus Macmillan yang juga menjadi editor Oxford dan Collin Cobuild dictionary. Salah satu bukunya "The Oxford Guide to Prcatical Lexicograpphy" yang ditulis bersama Sue Atkins merupakan rujukan para pekamus saat ini.

 

Rundell menjadi narasumber utama dalam Bengkel Leksikografi yang dilaksanakan Badan Bahasa selama tiga hari sejak 30 April-2 Mei lalu. "Kegiatan ini dilakukan untuk mengingkatkan kompetensi dan pemutakhiran informasi leksikografi baik secara teori maupun praktik," ungkap Dadang.

 

Adapun Rundell mengatakan mengapa sumber digital dinilai menjadi lebih baik dari versi digital, sebab apa yang dicari disana bisa tanpa batasan luas. "Akan tetapi tidak semua orang itu selalu terkoneksi dengan internet," ia mengatakan.

 

Lalu secara multimedia juga bisa melibatkan audio, gambar dan juga terhubung dengan konten website. "Juga selalu update, sehingga tidak setiap lima tahun sekali," ujarnya. Sehingga akses bisa dilakukan dalam bermacam platform, yakni desktop, tablet dan telepon pintar.

Penetrasi akses Internet tahun 2017 di Amerika Serikat mencapai 87,9%. Di Norwegia dan Inggris lebih tinggi, yakni 99,6% dan 94,8%. Sedangkan Australia 88,2%, Indonesia 53,7% serta India 34,4%.

 

Digitalisasi menurut Rundel membuat penerbit kamus mengalami kehilangan beberapa hal. Seperti ketergantungan akan bisnis model dan peran penjaga gawang terutama dalam hal pemegang otoritas. "Dengan siklus edisi lima tahun juga saatnya bagi kita untuk refleksi diri," ungkapnya.


Editor : Birny Birdieni  

 

 

 

Birny Birdieni
03-05-2018 17:43