Main Menu

Jangan Mudah Terprovokasi Hoaks

Iwan Sutiawan
07-05-2018 19:39

Direktur Intelkam Polri, Berigjen Pol Djoko Mulyono, kedua dari kiri. (GATRA/Iwan Sutiawan/RT)

Jakarta, Gatra.com - Direktur Intelkam Polri, Berigjen Pol Djoko Mulyono, mengimbau seluruh elemen jangan mudah terprovaksi hoaks karena bisa melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

"Ini yang perlu antisipasi, jangan sampai kita mudah diadu domba. Jangan sampai kesatuan dan persatuan lemah. Karena persatuan dan kesatuan itulah yang membuat kita merdeka," katanya dalam diskusi betajuk "Negara dan Media Melawan Hoaks di Jakarta, Senin (7/5).

Menurutnya, persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa Indonesia inilah yang membuat republik ini merdeka. Karena perjuangan yang dilakukan secara sporadis terbukti gampang dipatahkan.

Kasubdit Keamanan Khusus Itelkam Polri, Kombes Pol Ratno Kuncoro, menambahkan, sesuai data Mabes Polri, dari awal tahun 2017 sampai Maret 2018, pihaknya telah menangani hampir 3000 lebih kasus terkait cyber crime.

"Jadi di dalamnya ada cyber crime sebanyak 60%, 30% penistaan. Jadi ada orang di medsos, tidak suka merasa namanya dicemarkan, dia lapor polisi supaya yang mencemarkan diproses hukum," katanya.

Kemudian, lanjut Ratno, dari sekitar ribuan kasus yang ditangani itu, sekitar 8% di antaranya adalah dugaan ujaran kebencian. "Jadi kami kolaborasi dengan Bareskrim. Kita intel mendeteksi, kami melihat ada apa, kemudian memberikan input," katanya.

Ratno mengimbau masyarakat jangan sampai saling berkelahi akibat terprovokasi hoaks tentang ujaran kebencian, perbedaan pandangan, perbedaan aliran antaragama, aliran di dalam satu agama, dan lainnya agar tidak seperti yang terjadi misalnya di Timur Tengah.

Sementara Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik dan Kerja Sama Kelembagaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Deddy Hermawan, mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai upaya agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks.

Kominfo, lanjut Deddy, melakukan langkah-langkah antisipasi melalui peningkatan literasi dan edukasi dengan menggandeng berbagai elemen di berbagai wilayah, baik itu melibatkan organisasi keagamaan dan lainnya.

"Kita keliling seluruh Indonesia, ada 400-500 kegiatan yang libatkan umat lintas agama. Salah satu yang kita hasilkan adanya fatwa MUI tentang penggunaan medsos," ujarnya dalam diskusi gelaran PENA 98 ini.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
07-05-2018 19:39