Main Menu

BSN: Area Berbahaya Perlu Standardisasi Pelayanan Keselamatan

Arif Prasetyo
08-08-2018 16:56

Diskusi Standardisasi Pelayanan Keselamatan Area Berbahaya. (Dok. BSN/FT02)

Jakarta, Gatra.com – Badan Standardisasi Nasional (BSN) bersama International Electrotechnical Commission (IEC), IEC System for Certification to Standars relating to equipment for use in Explosive Atmospheres (IECEx) serta United Nation Economic Commission for Europe (UNECE) berdiskusi mencari solusi terkait pengamanan area berbahaya.


Yang dimaksud area berbahaya adalah SPBU, kilang minyak atau rig pengeboran minyak lepas pantai, industri pegolahan bahan kimia, pengisian bahan bakar pesawat udara, dan rumah sakit.

Mereka selama dua hari membicarakan standar pelayanan keselamatan yang selama ini dianggap remeh. Dalam diskusi tersebut hadir 250 peserta dari berbagai perusahaan gas & oil, Pertamina maupun perusahaan terkait dari dalam negeri dan 15 perwakilan negara asing.

Sekretaris Utama BSN Puji Winarni mengatakan, Indonesia perlu memberikan perhatian khusus pada isu ini mengingat perkembangan industri otomasi semakin meningkat sehngga perlu dikembangkan standar terkait. Otomasi industri ditandai dengan penggunaan mesin yang bekerja dengan atau tanpa bantuan manusia dalam proses produksi.

“Sebagaiamana penerapan industri otomasi di area berbahaya yang semakin meningkat, maka instalasi yang efisien dan aman juga diperlukan. Namun situasi ini tetap saja menciptakan risiko kebakaran atau ledakan yang membahayakan jiwa manusia,” ujar Puji, di Jakarta, Rabu (8/8).

Masyarakat internasional, lanjutnya, sering menyebut daerah itu dengan kata “Hazardous Locations”, atau “Explosive Atmospheres” atau “Ex Areas”.

Oleh karenanya adalah penting dan mendasar sserta harus menjadi perhatan terutama pihak berkepentingan untuk menerapkan standardisasi dan penilaian kesesuaian terhadap peralatan itu.

“Salah satu organisasi dunia yang menaruh perhatian pada persoalan ini adalah IEC. Sebagai wujud nyata, IEC telah membentuk komite Teknis-31 yng mengembangkan standar terkait dengan sistem dan peralatan yang dipasang di area berbahaya,” kata Puji.

Sementara, Executive Secretary, Chris Agius mengatakan, Indonesia memerlukan IECEx. Salah satunya karena UN telah mengakui sistem IECEx untuk harmonisasi regulasi di berbagai negara sehingga manufaktur dapat lebih leluasa dalam berinovasi dan menggunakan teknologi terkini untuk produk yang diguakan dalam area Ex.


Editor: Arief Prasetyo

Arif Prasetyo
08-08-2018 16:56