Main Menu

Jokowi Panggil Lagi Menteri Ekonomi ke Istana

Ervan
04-09-2018 09:54

Presiden Joko Widodo (Dok. GATRA/Dharma Wijayanto/FT02)

Jakarta, Gatra.com- Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil beberapa menteri dan pejabat negara ke Istana Presiden di Jakarta Pusat pada Selasa (4/9) pagi. Menteri dan pejabat negara yang dipanggil yaitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua DK OJK Wimboh Santoso, dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

 

Selain itu juga datang Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Ignasiun Jonan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Kemarin Presiden juga memanggil para menteri dan pejabat tersebut guna membahas situasi ekonomi terkait pelemahan rupiah terhadap Dolar Amerika.

"Hari ini kami bersama Bank Indonesia, OJK, dua Menko dan Mendag melaporkan kepada Presiden mengenai kondisi terkini mengenai perekonomian Indonesia, termasuk tadi mengenai inflasi yang angkanya cukup baik. Bahkan dari sisi pangan, jadi stabilitas harga dalam negeri cukup baik," ujar Menkeu Sri Mulyani.

Pemerintah pun mewaspadai dinamika ekonomi global yang berasal dari sentimen ekonomi di Argentina dan negara lain.

"Karena situasi di sana belum akan selesai maka kita harus antisipasi bahwa tekanan ini akan terus berlangsung. Dari dalam negeri, langkah-langkah yang akan dilakukan pemerintah bersama otoritas moneter dan OJK akan semakin disinergiskan," ucapnya. 

Perekonomian dalam negeri memang sedang tertekan. Nilai tukar Rupiah makin jeblok seiring penurunan bursa saham dan mata uang Asia. 

Hari Senin pagi, (3/9) Rupiah berada di Rp 14.778 per dolar Amerika Serikat (US$) di pasar spot. Hari ini, Rupiah kembali melemah 0,46% ketimbang penutupan akhir pekan lalu pada Rp 14.710 per US$. 

Pelemahan Rupiah ini menyentuh level terendah sejak 1998. Posisi terlemah Rupiah sebelumnya adalah Rp 16.650 per US$ pada 17 Juni 1998. 

Nilai rupiah turun enam persen dalam tiga bulan terakhir. Intervensi Bank Indonesia di pasar mata uang dan obligasi tidak terlalu banyak membantu menahan pelemahan rupiah. Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga hingga empat kali sejak Mei lalu.

Sejumlah analis -seperti yang dirangkum Bloomberg memprediksi, Rupiah sedang menuju level psikologis baru Rp 15.000 per US$ untuk pertamakalinya sejak krisis moneter 1998.

Ketergantungan terhadap impor minyak mentah menjadikan Rupiah rentan terhadap aksi jual mata uang negara berkembang yang dipicu krisis keuangan di Turki dan Argentina.

"Lima belas ribu adalah level psikologis berikutnya yang bisa ditembus rupiah," kata Nick Twidale, chief operating officer di Rakuten Securities di Sydney. 

"Defisit neraca perdagangan dan ketergantungan terhadap impor minyak melumatkan rupiah," kata Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik di Oanda Corp., Singapura.


Reporter: Ervan Bayu
Editor: Mukhlison

Ervan
04-09-2018 09:54