Main Menu

LIPI: Isu Agama dalam Pilkada DKI Koyak Tenun Kebangsaan

Wem Fernandez
03-05-2017 14:42

Pilkada DKI Jakarta (GATRAnews/Handika Rizki R/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Masifnya isu agama dan identitas kesukuan yang digunakan dalam Pilkada DKI Jakarta, merupakan langkah mundur dalam demokrasi. Dampaknya, tenun kebangsaan yang sekian lama dirajut di Indonesia, dikoyak begitu saja. Potensi konflik atas isu-isu ini kedepannya sangat terbuka.

Demikian pernyataan Peneliti Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI), Sri Yanuartibdi Kantor LIPI, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu, (3/5). "Dari aspek substansional (Demokrasi) mengalami kemunduran, karena Pilkada DKI mudah menggoreng isu, kapitalisasi agama, identitas dan sebagainya. Perasaan atau rasa kebangsaan yang sudah dibangun puluhan tahun di Indonesia, selesai begitu saja. Kita kan tidak mau kelompok masyarakat kita tersegregasi," tegas Sri.

Contoh koyaknya tenun kebangsaan dapat dilihat pada konflik di Kota Ambon atau di Jakarta 1998 silam. Bukan tidak mungkin, persitiwa ini bakal terjadi di Jakarta, mengingat begitu kuatnya sentimen keagamaan atau identitas yang dimunculkan dalam Pilkada DKI.

Salah satu sorotan dalam "menggoreng" isu ini adalah digunakannya sarana sosial atau keagamaan seperti masjid dan atau sekolah sebagai tempat untuk berkampanye.

Jika ditemukan pelanggaram seperti ini, seharuanya bukan personal atau kelompok yang di hukum melainkan sponsor.

"Masjid dipakai untuk mengkafir-kafirkan orang lain, kan ada aturan bahwa tempat umum atau publik seperti masjid-sekolah tidak digunakan untuk kampanye. Siapa yang harus di punishment, bukan orang yang melakukan itu tetapi calon. Saya pikir kampanye di masjid tidak akan berjalan tanpa ada sponsor. Kalau ini dilakukan, ya user itu yang kena," tegas dia.

Untuk mengantisipasi kejadian ini, penyelenggara pemilu harus membuat peraturan yang rigit dan tidak hanya menyasar pasangan calon melainkan pada tim kampanye. Artinya, sepak terjang tim kampanye dalam "menggoreng" setiap isu bisa diawasi.


Reporter : Wem Fernandez⁠⁠⁠⁠

Editor: Nur Hidayat

Wem Fernandez
03-05-2017 14:42