Main Menu

Cawagub Taj Yasin Kenalkan Ekotren dan Klarifikasi Kartu Tani

Mukhlison Sri Widodo
23-03-2018 04:23

Deklarasi Santri Gayeng bersama calon wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Semarang, Gatra.com -  Calon wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen turut mengenalkan program ekonomi pasangannya, gubernur petahana Ganjar Pranowo.

Antara lain program Ekotren, yakni pengurangan angka kemiskinan yang menyesuaikan ekonomi tren masa kini melalui sentra kulakan, di samping mengklarifikasi program Kartu Tani yang sempat dikeluhkan petani.

"Kami akan membangun sentra kulakan di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah," kata politisi PPP yang akrab disapa Gus Yasin di Kota Semarang, Kamis (22/3).

Menurut dia, sentra kulakan tersebut akan dibangun di beberapa lokasi strategis, seperti di seputaran masjid atau pondok pesantren. 

Satu sentra setidaknya akan membawahi 100 warung kecil di sekitar lokasi inti. 

Menurut Yasin, satu sentra kulakan paling tidak akan mempekerjakan lima orang. Sehingga ada 100 keluarga pemilik warung kecil yang terbantu dengan sentra kulakan tersebut. 

"Satu sentra kulakan bisa membantu 105 orang. Itu baru satu, kami ingin bangun 100-500 sentra kulakan di seluruh wilayah di Jateng," ujarnya.

Gus Yasin yakin program ekotren bisa jadi satu solusi pengentasan kemiskinan sekaligus bisa mengembangkan cara pandang masyarakat tentang kewirausahaan.

Ia berkata dua modal sosial yaitu masjid dan pondok pesantren punya potensi yang besar. Contohnya Pondok Pesantren Sarang, Rembang, yang turut dia kelola, saat memasuki masa libur, perekonomian turun 30 persen. "Artinya keduanya punya potensi ekonomi yang besar," tuturnya.

Ketika ekotren berjalan, maka masjid dan pondok pesantren atau sentra kulakan lain diharapkan bisa mandiri dan menghidupi lingkungan sekitarnya. 

Contohnya, saat para pengusaha UMKM bingung memasarkan produknya, mereka bisa melalui ekotren.

Sebelumnya Gus Yasin juga menjelaskan program yang diinisiasi Ganjar, yakni kartu tani yang sempat dikeluhkan petani.

Ini terjadi saat ia datang ke Pondok Pesantren Sunan Gringsing Purbalingga, Rabu (21/3) dan ditanya Samian, petani  Desa Gemuruh, Kecamatan Padamara, Purbalingga.

"Kalau untuk petani, biasanya menabung dulu baru mendapat pupuk. Kerepotannya di situ, kalau dulu ada uang dapat pupuk," katanya.

"Tenaga kerja tanam jumlahnya makin menurun. Di wilayah Gemuruh, baiknya bagaimana, diberi mesin tanam atau ada solusi lainnya," tanya Samian. 

Mendapat pertanyaan tersebut, Gus Yasin mengatakan Kementerian Pertanian hingga saat ini tidak mencabut subsidi bibit.

"Dengan adanya laporan ini, justru menjadi pertanyaan kenapa bibit susah dicari? Nanti kami periksa akar masalahnya," ujarnya. 

Ia mengatakan, masalah bibit subsidi juga akan masuk Kartu Tani. Ia mengakui belum semua masalah pertanian  ditampung Kartu Tani. 

"Permasalahan subsidi, seperti gas melon, mestinya untuk orang yang membutuhkan, nanti ini diatur di Kartu Tani sesuai kebutuhan petani, seperti pupuk atau bibit," katanya.

Yasin juga menyinggung tren masyarakat Jawa Tengah yang meninggalkan pertanian. Dengan kondisi ini, pemerintah akan mendorong masyarakat Jateng menjamin pertanian. 

"Bahkan sekarang buruh tani lebih mahal dari buruh bangunan," tambahnya.

Yasin mengatakan pada 2016 Pemerintah Provinsi Jateng sudah punya Perda Pertanian tentang jaminan pemerintah membeli hasil panen dan asuransi petani.

"Namun, belum bisa dilaksanakan hingga sekarang karena pemerintah pusat belum ada aturannya," ucapnya.

Selain bertemu petani, Yasin juga menemui MUI Purbalingga di kediaman Miai Rokhib Sokawera Padamara. Dia juga menghadiri Deklarasi Santri Gayeng di PP Darul Falah, Karang Gambas, Padamara.


Reporter : Arif Koes

Editor : MUkhlison

Mukhlison Sri Widodo
23-03-2018 04:23