Main Menu

Cawagub Ida Terima Keluhan dari Wirausaha Pemalang

Mukhlison Sri Widodo
25-03-2018 19:47

Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah Ida Fauziyah kampanye di Pemalang, Jawa Tengah. (Dok. Tim Media Sudirman-Ida/FT02)

Semarang, Gatra.com - Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah Ida Fauziyah menerima keluhan dari dunia usaha saat berkampanye di Kabupaten Pemalang, Sabtu (24/3). 

Keluhan datang dari perajin kain khas setempat, sarung goyor, dan pegiat usaha kuliner.

Perajin sarung goyor di Wanarejan Utara, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Khairon, bercerita sejumlah kesulitan para perajin, mulai mahalnya benang sebagai bahan baku, hingga akses penjualan yang selama ini ditangani pengepul.

"Harga benang ini mahal, karena memang ekspor. Ada yang murah dan tidak harus ekspor, tapi jadinya nanti kain kasar," ujar Khairon, seperti rilis yang diterima GATRA, Minggu (25/3).

Meski harga benang mahal, kata dia, perajin tidak bisa menaikkan harga jual produksi sarung goyor. 

"Karena yang ambil produksi kami adalah pengepul. Dari pengepul, lalu bisa ekspor ke sejumlah negara seperti Afrika dan Brunei. Jadi harga setelah produk jadi adalah pengepul," katanya.

Perajin lain, Nur Jamil mengatakan, kain sarung goyor bisa dibuat pakaian. "Istilahnya bisa buat baju lurik Pemalang. Kami berharap lurik Pemalang ini terangkat sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat," imbuhnya.

Dia juga berharap, sarung goyor ikut dipopulerkan Ida. "Kalau kota Pekalongan disebut kota batik, kami juga ingin sarung goyor populer," katanya.

Ida Fauziyah menanggapi perajin sarung goyor merupakan salah satu potensi Pemalang, apalagi diproduksi oleh masyarakat satu kampung.

"Ini jelas sudah mengurangi angka pengangguran. Tinggal kita bidik dan dongkrak saja, agar keberadaannya semakin maksimal dan memberi nilai lebih," kata pasangan calon gubernur Sudirman Said itu.

Menurut Ida, langkah paling mudah saat ini adalah membentuk koperasi sehingga semua perajin bisa disatukan.

Adapun pelaku usaha makanan dari nanas di Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang mengaku kesulitan mengakses bantuan modal dari bank milik pemerintah kabupaten dan provinsi.

Mereka mengatakan sudah mengajukan bantuan modal. Namun pengajuan itu ditolak karena usaha mereka dianggap terlalu kecil.

"Katanya, usahanya masih kecil lalu ditolak. Justru kami ingin pinjam modal itu agar usaha kita menjadi lebih besar," ujar Azizah, pelaku usaha kuliner berbahan nanas.

Untuk bantuan dari pemerintah, menurut dia, sudah ada. Hanya saja bentuknya berupa alat. "Soal bantuan modal tidak ada realisasi," katanya.

Azizah mengatakan, bersama perempuan sekitar, ia mengolah nanas menjadi berbagai makanan olahan dengan merek "Bellage". Ada koktail, sirup, pulpy, manisan, krupuk, steak, dodol, selai, hingga sampo nanas.

Mereka mengolah nanas sejak 18 Februari 2012. Selain modal usaha, Azizah berkata butuh banyak bimbingan dari berbagai pihak.

"Terutama soal pengepakan dan marketing. Untuk pengepakan, misalnya  produk minuman," katanya.

Kelompok usaha ini telah mengantongi izin usaha rumah tangga hingga sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). "Namun soal pemasaran masih terbatas, belum bisa dijual luas," ucapnya.

Kecamatan Belik adalah sentra nanas madu. Hampir semua warga bertani nanas. Harga nanas dari petani rata-rata Rp2.000 per butir, dari tengkulak Rp3.000 per butir dan di pasaran mencapai Rp7.000 per butir. 

"Karena itu, kami berusaha melakukan terobosan dengan industri pengolahan nanas ini," kata Azizah.

Ida Fauziyah mengatakan, kelompok seperti "Bellage"  harus mendapat pendampingan dari pemerintah.

"Wilayah ini punya potensi nanas. Mereka kreatif melakukan pengolahan biar ada nilai lebih. Tentu pemerintah tidak bisa lepas tangan dan perlu melakukan pendampingan," ujarnya.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
25-03-2018 19:47