Main Menu

Kegalauan Prabowo Bisa Jadi Citra Politik yang Menguntungkan

Mukhlison Sri Widodo
07-04-2018 15:39

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (GATRA/Adi Wijaya/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tak kunjung menyatakan mau lagi sebagai calon presiden, kendati banyak pendukung terutama kader partainya mendesak ia berlaga lagi di Pilpres 2019. 

Gestur kegalauan Prabowo justru dianggap positif bagi citra politiknya.

Peneliti Centre for Presidential Studies, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada Taufik Rahma menilai wajar jika Prabowo sedang bimbang dengan langkah politiknya.

"Prabowo memang galau karena arah dukungan Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa sementara ini ke Jokowi. Sementara, Partai Amanat Nasional kelihatannya 'jual mahal' menentukan sikap," kata Taufik saat dihubungi, Sabtu (07/4).

Dengan situasi politik saat ini, dukungan partai ke Gerindra untuk mencapreskan Prabowo jadi tidak jelas. Koalisi setia Gerindra pun, Partai Kebangkitan Bangsa, masih maju mundur dengan tidak menyebut nama spesifik capres yang diusung.

Sementara, untuk mengulangi kesuksesan Pilpres 2014 dan Pilkada DKI juga susah. Saat pilpres 2014, logistik kubu Prabowo amat kuat. Adapun pada pilkada DKI, kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno usungan Gerindra-PKS didukung sentimen negatif SARA pada gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Kalau nekat deklarasi modal 'pahe' (paket hemat) lagi seperti di DKI kemarin, sangat berat," kata Taufik.

Sedangkan, jika tak nyapres lagi dan menyerahkan tiket capres ke sosok lain, Prabowo jelas rugi. Sekadar menjadi calon wakil presiden Joko Widodo juga sayang karena dukungan pada Prabowo masih amat besar.

Taufik menilai, kemungkinan Prabowo mengalahkan Jokowi masih ada.

"Suara Prabowo dan Jokowi di Pilpres 2014 'hanya' beda 6%. Ini posisi yang belum aman buat Jokowi. Masih sangat mungkin disalip di 2019," ujarnya.

Dengan situasi politik itu, wajar jika Prabowo dianggap lagi galau. 

"Wacana galau ini sebenarnya  implikasi logis dari posisi politiknya yang sulit. Koalisi belum terbentuk, sedangkan waktu pendaftaran capres dan cawapres sudah semakin dekat," katanya.

Menurut Taufik, situasi yang dialami Prabowo saat ini tentu melahirkan banyak tekanan. Apalagi jika ini menjadi momentum terakhirnya di pilpres. 

"Jadi wajar jika dianggap kelambanannya menentukan sikap sebagai bentuk kegalauan,"papar Taufik yang intens meneliti gestur dan komunikasi politik elit politik nasional dalam tesisnya ini.

Namun berbeda dengan pandangan sejumlah pihak, Taufik menganggap, gestur Prabowo sebenarnya belum bisa dianggap galau-galau amat. Dari sudut pandang gestur, stabilitas emosi Prabowo masih normal.

"Gestur Prabowo memang  khas militer. Ekspresinya selalu serius, sedikit senyum, bicaranya tegas, responsif, lugas, dan kadang meledak-ledak. Prabowo bisa dianggap galau jika tiba-tiba tidak menampilkan gestur khasnya ini. Saat ini, kepercayaan dirinya masih terlihat jelas," ujar Taufik.

Selain itu, gaya santai juga ditunjukkan Prabowo akhir-akhir ini di depan media. 

"Ini mungkin saja bagian dari strategi terbaru komunikasi politiknya yang mulai populis. Prabowo sadar ekspresinya mudah saja dijadikan bulan-bulanan oleh media besar," ujarnya.

Padahal, anggapan Prabowo tengah dilanda galau, justru bisa direspon positif oleh publik. 

Selama ini, publik cenderung memberi apresiasi pada elit politik yang dipandang sebagai sosok yang tenang dan tidak reaksioner.

"Pilihan sikap yang kelihatan galau dan tidak jelas justru lebih menguntungkan citranya daripada dipersepsikan sebagai orang yang reaktif dan temperamental," kata Taufik.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison 

Mukhlison Sri Widodo
07-04-2018 15:39