Main Menu

Airlangga Soal Cawapres Golkar: Tunggu Setelah Pilkada

Anthony Djafar
17-04-2018 22:53

Ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama sejumlah pengurus usai rapat konsultasi di DPP Golkar. (dok. anthony/ton).

Jakarta, Gatra.com - Ketua DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan bahwa partai Golkar belum membahas secara khusus mengenai Calon Wakil Presiden (Cawapres) pendamping Presiden Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.


“Kami belum membahas secara khusus mengenai Cawapres. Nanti akan dibahas pada waktunya setelah Pilkada,” kata Airlangga usai menggelar rapat konsultasi, di kantor DPP partai Golkar, Jl. Anggrek Neli, Jakarta Barat, Selasa malam (17/4).

Menurut Airlangga belum adanya pembahasan mengenai Cawapres dari Golkar semata-mata menunggu hasil Pilkada nantinya dan saat ini Golkar sedang berkonsentrasi untuk meningkatkan elektabilitas dengan harapan dapat memenuhi target 110 atau 18 persen suara di legislatif.

“Kita akan bahas Cawapres pasca Pilkada. Intinya, bagi kami di Golkar, Jokowi presiden dua priode,” katanya.

Airlangga mengatakan bahwa rapat konsultasi kali ini selain pengurus juga dihadiri ketua dewan pakar dan jajarannya itu, untuk mendengarkan masukan-masukan menjelang Pileg dan Pilpres.

“Ada 15 masukan yang kami terima dari dewan pakar terkait pemenangan pemilu, konsolidasi organisasi, terkait situasi politik, tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan DPP partai Golkar. Diharapkan dapat memenangkan Pileg dan Pilpres,” katanya.

Sementara itu ketua dewan pakar DPP Partai Golkar, Agung Laksono mengatakan bahwa posisi Airlangga sebagai ketua umum partai Golkar tepat mendampingi presiden Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang.

“Saya melihat ada chemistry yang baik antara Airlangga dan presiden Jokowi. Airlangga justru akan menambah elektabilitas pak Jokowi jika melihat kinerja Airlangga di kabinet selama beberapa tahun ini,” katanya.

Artinya kata Agung bahwa jika memang nantinya Golkar diminta, maka tentunya Golkar akan mengusung Airlangga untuk dapat mendampingi Jokowi.

“Kalau diminta dari Golkar ya, maka dewan pakar mengusulkan ketua umumnya saja maju sebagai Cawapres sekaligus menghindari perpecahan di internal Golkar,” katanya.

Soal adanya analisa bahwa Jokowi akan menggandeng Prabowo sebagai Cawapres dalam Pilpres mendatang, Agung menilai pandangan itu masih sangat jauh mengingat selama beberapa tahun ini, tidak ada keinginan Prabowo untuk menjadi Cawapres-nya Jokowi.

“Saya tidak melihat kalau ada cela ke sana (Prabowo jadi Cawapres Jokowi), apalagi selama ini begitu lama berkompetisi. Ini pandangan saya. Saya mendengar tidak ada jalannya untuk bersatu. Itu info yang saya tahu dan tidak akan ke sana pasangannya (Jokowi-Prabowo),” katanya.

Editor: Anthony Djafar

Anthony Djafar
17-04-2018 22:53