Main Menu

Hasil Nelangsa Politik Wangsa, PDI Perjuangan Salahkan PKS

Rohmat Haryadi
04-07-2018 18:21

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. (ANTARA/Sigid Kurniawan/re1)

Jakarta, Gatra.com -- Pilkada 2018 disebut juga sebagai kuburan bagi para calon yang berasal dari politik dinasti. PDI Perjuangan, misalnya, kalah di 3 propinsi yang mencalonkan calon-calon yang masih memiliki trah politik. Mereka adalah Giri Ramanda Kiemas (Sumatera Selatan), Puti Guntur Soekarno (Jawa Timur), dan Karolin Margret Natasha (Kalimantan Barat). Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan, membantah bahwa kekalahan ketiganya akibat dari politik wangsa yang sudah tidak laku. “Lagipula, apakah dinasti politik selalu salah, kan mereka juga punya hak untuk dipilih,” katanya kepada Gatra, di Jakarta, 3 Juli 2018.

 

Selain itu, lanjutnya, apa yang dilakukan oleh PDI Perjuangan mencalonkan ketiganya tidak semata-mata karena politik dinasti. “Lha yang namanya kaderisasi itu kan juga bisa berasal dari keluarga, masa nggak diperbolehkan?” kata Hasto. Pencalonan Karolin misalnya, lanjut Hasto, ketika menjadi Bupati kinerjanya termasuk bagus dan untuk DPR ia meraih suara terbanyak di dapilnya. “Ya dengan data yang seperti itu, kita kan harus obyektif juga untuk kasih dia kesempatan menjadi cagub, tidak sekedar hanya melihat dia anak siapa,”ujarnya. Karolin adalah anak Cornelis, petahana Gubernur Kalbar.

Kaderisasi, lanjut Hasto, sangat biasa dilakukan di keluarga. “Istilah politik dinasti itujadi negatif karena di masa lalu ada yang menyalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarga, terus korupsi,” ujarnya. Di negara demokrasi, lanjut Hasto, partainya tidak bisa melarang bila ada suami istri yang sama-sama ingin maju pileg karena itu merupakan hak konstitusional untuk dipilih dan memilih. “Yang kami larang mereka tidak boleh maju dari dapil yang sama dan dari satu keluarga hanya boleh ada dua yang maju,” katanya.

Lagipula, dari evaluasi yang dilakukan di pilgub Kalbar, lanjut Hasto,kekalahan Karolin lebih disebabkan politik identitas dan faktor negatif ketika apa yang disampaikan internal partai. “Ada juga masalah logistik, strategi, pemilihan kerjasama partai, itu juga menentukan,” katanya. Dalam mencalonkan Karolin, PDI Perjuangan menggandeng Partai Demokrat dan PKPI.

Sedangkan di Jatim misalnya, lanjut Hasto, faktor kerjasama dengan PKS ternyata mendatangkan respon negatif. “Itu efeknya ternyata jelek ke Gus Ipul,” katanya.


Reporter: Bernadetta Febriana
Editor: Rohmat Haryadi

 

Rohmat Haryadi
04-07-2018 18:21