Main Menu

LIPI: Ada 5 Nama Penantang Jokowi, Termasuk Habib Rizieq

Muchammad Egi Fadliansyah
06-07-2018 16:50

 Peneliti LIPI Syamsuddin Harris (lipi.go.id/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Pendaftaran Calon Presiden dan Wakil Presiden tinggal sebulan lagi. Namun, dinamika politik dengan berbagai kemungkinan masih akan terjadi. Menurut Peneliti LIPI Syamsuddin Harris, pertarungan Pilpres hanya akan melibatkan dua kubu koalisi. Sebab, tingginya ambang batas membuat ruang Pilpres semakin menyempit, meskipun tidak menutup kemungkinan ada tiga pasang calon.

 

Syaratnya, lanjut Haris, Partai Demokrat, PKB, dan PAN harus berkoalisi. Tentunya, dengan PKS dan Gerindra di kubu lain, dan PKB tidak merapat ke kubu Jokowi. "Saya berkeyakinan masih ada dua, kubu Jokowi dan kubu penantang Jokowi," kata kepada wartawan di Kantor Para Syndicate, Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (06/07).

Selanjutnya, menjelang satu bulan pendaftaran Capres dan Cawapres lawan tanding Jokowi semakin banyak. Setidaknya, ia melihat, ada 4 hingga 5 nama yang sudah ramai di khalayak publik. Di antaranya, ada nama Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, Jusuf Kalla, hingga Habib Rizieq.

Meski begitu, selain nama Prabowo Subianto, nama-nama di atas masih bermasalah dalam hal kendaraan partai pengusungnya. "Walaupun JK dan AHY misalnya kan tidak cukup Demokrat. Butuh dua partai menengah lain. Kecuali Golkar gabung, tapi kemungkinan kecil," ujarnya.

Menurutnya, figur yang menarik ada pada sosok Anies Baswedan. Sebab, ia melihat, sosok Anies dapat memobilisasi isu, misalnya, seperti politisasi agama maupun muatan politik yang berbau sara. Meskipun, menurutnya, kondisi tersebut dikehendaki. "Nah Anies ini dengan siapa, misal capresnya JK. Ini lebih sulit dalam mendapatkan dukungan politik. Walaupun lebih menantang buat Jokowi," jelasnya.

Lain hal dengan Gator Nurmantyo, pensiunan Jenderal bintang empat ini, menurut Harris walau populer dikalangan publik, tapi untuk kalangan elite tidak. Pasalnya, tambah ia, figur Gatot merupakan sosok yang "jual mahal", sehingga komunikasi di elite untuk melobi partai sulit terkonsolidasi. "Karena itu harusnya dilakukan. Karena tidak mungkin maju tanpa parpol," imbuhnya.

Sedangkan, sosok Rizieq Shibab merupakan alternatif pilihan terakhir bila konsolidasi elite penantang Jokowi gagal. "ketika negosisasi antar tokoh gagal, mau tidak mau Habib Rizieq akan ditengok sebagai alternatif untuk mengalahkan Jokowi," ucapnya.

Bagaimana dengan Capres Prabowo? Menurut Harris, peluang Prabowo mencalonkan diri pada Pilpres 2019 hanya 50%. Sebabnya, ia menambahkan, logistik Prabowo semakin menipis.

Andalan Prabowo untuk logistik, yakni adiknya Pengusaha Hasyim Djojohadikusumo. Sementara, jika mengutip Forbes pada tahun ini semakin orang terkaya di Indonesia menduduki peringkat 90-an. Padahal, 2014 lalu posisi Hasyim masih ada pada nomer 40-an sebagai orang terkaya di Indonesia. "Sebab ini masalah yang luar biasa. Sebab diduga kuat dana pencapresan itu lebih dari 1 Trilyun," terangnya.

Kendala lainnya, ia melanjutkan, kuatnya persaingan elite di kubu Prabowo. Misalnya PKS sudah menyodorkan 9 nama untuk Cawapres, begitu juga dengan PAN yang menyodorkan Ketua Umunya Zulkifla Hasan. Belum lagi, kubu Cikeas yang tidak pernah putus untuk terus menjajakan AHY. "Penjajakan AHY yang tidak pernah putus oleh Cikeas. Misal JK-AHY, Prabowo-AHY, Anies-AHY," pungkasnya.

Meski demikian, ia menilai, persaingan antar elite juga terjadi di kubu Jokowi. Karena itu, menurutnya, sangat mungkin bila nantinya akan ada koalisi Jokowi yang membelot, karena tidak mendapatkan kursi Wapres.

"Ini agak sulit memang, karena koalisi bukan basis ideologis. Karena kepentingan pendek, jadi ini yang akan menyulitkan. Karena tidak pada visi dan platform yang sama," katanya lagi.


Reporter : MEF

Editor : Sandika  Prihatnala

Muchammad Egi Fadliansyah
06-07-2018 16:50