Main Menu

Fahri Hamzah : Platform Koalisi Parpol di Pilpres Tidak Jelas

Wem Fernandez
14-07-2018 11:12

Fahri Hamzah. (GATRA/Ardi Widi Yansah/re1)

 

Jakarta, gatra.com- Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fahri Hamzah menilai, platform koalisi partai politik jelang Pilpres 2019 terlalu rumit. Alhasil, koalisi biasanya terbentuk secara permanen sekitar tanggal 9 dan 10 Agustus mendatang.

“Selain rumitnya platform, juga karena tidak ada kesepakatan dari Mahkamah Konstitusi (MK) terkait judicial review presidential  threshold. Jika MK ‘melahirkan’ keputusan 0 persen, maka koalisi akan bubar,” sebut Fahri usai acara Netizen #NgopiBarengFahri dengan tema “Kaum Milenial, Arah Baru Indonesia” di Bekasi, Jumat malam (13/7).

Bahkan, Fahri mengaku nantinya yang muncul dipermukaan adalah poros baru (tengah) yang dilihat publik lebih merupakan alternatif dari dua konflik tersebut. Namun, kemungkinan itu bisa terjadi kalau 20 persen ditolak oleh MK.

“Kalau PT 0%, koalisinya akan bubar. Tapi saya berfikir bahwa trend nya akan ke arah sana (banyak calon), karena itu positif bagi perkembangan suasana pemilihan yang demokrasi,” kata politisi PKS itu.

Menanggapi soal koalisi Partai Gerindra dan Demokrat, Fahri tak menampik kalau PKS juga akan kesulitan dalam menentukan koalisi dengan Gerindra. Sebab, Gerindra memiliki kalkulasi menang atau tidak.

“Dia juga ngga mau koalisi kalau kalah. Karena ini ‘sudden dead’. Artinya, kalau bisa dua poros kan, langsung kalah,” pungkas anggota DPR asal Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.


Reporter : wem fernandez

editor : bernadetta febriana

Wem Fernandez
14-07-2018 11:12