Main Menu

Hasto : SBY Selalu Politisir Hubungannya dengan Megawati

Bernadetta Febriana
26-07-2018 09:11

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.(GATRA/Abdurachman/re1)

Jakarta, gatra.com - Pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono setelah melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Rabu (25/07) malam, mengundang reaksi dari PDI Perjuangan. Ketua Umum Partai Demokrat itu menyatakan bahwa kesulitan dan kegagalannya menjalin koalisi dengan Presiden Joko Widodo adalah hubungannya dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri yang dianggap masih membeku.

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menanggapi enteng  “keluhan melankolis” SBY terkait hubungannya dengan Megawati. “Monggo silahkan lihat dalam jejak digital maupun media cetak, bahwa menjelang Pemilu pasti Pak SBY selalu menyampaikan keluhannya tentang Ibu Megawati. Padahal Ibu Megawati baik-baik saja. Selama ini beliau diam, karena beliau percaya terhadap nilai2-nilai Satyam Eva Jayate, bahwa pada akhirnya kebenaranlah yang akan menang,” kata Hasto dalam pernyataannya kepada media.

Apa yang dikeluhkan SBY tersebut, kata Hasto, terjadi lebih karena sebagai seorang Bapak tentu mengharapkan yang terbaik bagi anaknya agus Harimurti Yudhoyono (AHY). “Seluruh pergerakan politik SBY adalah untuk anaknya, sementara Ibu Megawati jauh lebih luas dari itu. Ibu Mega selalu bicara untuk PDI Perjuangan; untuk Pak Jokowi; untuk rakyat, bangsa dan negara, sementara Pak SBY selalu saja mengeluhkan hubungan itu,” katanya.

Hasto pun mengingatkan apa yang terjadi menjelang pilpres tahun 2004. “Saat itu Pak SBY menyatakan diri sebagai orang yang dizolimi. Secara psikologis, seharusnya yang menzolimi itu kan yang merasa bersalah, tetapi kenapa ya Pak SBY justru nampak sebagai pihak yang merasa bersalah dan selalu menuduhkan hal yang kurang pas tentang Ibu Mega?”ujarnya.

Menjelang pilpres 2014, Hasto menyatakan ada salah satu Ketua Umum Partai Politik yang mendesak Mega agar bertemu SBY guna memastikan kemenangan Pak Jokowi. “Ibu Megawati menegaskan bahwa Pak Jokowi akan menang karena dukungan rakyat. Sekiranya pertemuan saya dengan Pak SBY dianggap sebagai faktor utama kemenangan Pak Jokowi, maka kasihan rakyat yang telah berjuang. Banyak rakyat kecil yang iuran 20-50 ribuan untuk Pak Jokowi. Masak dukungan rakyat yang begitu besar untuk kemenangan Pak Jokowi kemudian dinihilkan hanya karena pertemuan saya”, kata Hasto menirukan ucapan Megawati saat itu.

Gagal tidaknya koalisi SBY dan Partai Demokrat dengan koalisi pendukung Jokowi, lanjut Hasto, lebih karena kalkulasi yang rumit yang dilakukan SBY,  yang hanya fokus dengan masa depan AHY. “Jadi sebaiknya pemimpin itu bijak, kalau tidak bisa  berkoalisi dengan Pak Jokowi karena sikapnya yang selalu ragu-ragu, ya sebaiknya introspeksi dan jangan bawa nama Ibu Mega seolah sebagai penghalang koalisi tersebut. Sekiranya Pak SBY mendorong kepemimpinan AHY secara alamiah terlebih dahulu, mungkin sejarah bicara lain,” pungkas Hasto.


Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
26-07-2018 09:11