Main Menu

GNPF - Ulama Segera Menggelar Ijtima II Bahas Dukungan Paslon Pilpres 2019

Sandika Prihatnala
13-08-2018 14:57

Ketua GNPF Ulama Yusuf Martak (kiri) bersama Prabowo Subianto. (ANTARA/Rivan Awal Lingga/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) akan mengadakan Istima Ulama II sebagai tindaklanjut atas perkembangan politik pencalonan capres - cawapres. 

 

"Lewat ijtima Ulama II Kami ingin menegaskan, ulama jangan hanya dijadikan pelengkap. Tapi harus menjadi pihak utama yang diminta sarannya, dan saran itu dijalankan," tegas Ketua Umum GNPF Ulama, Ustaz Yusuf Muhammad Martak dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (13/8). Dalam Ijtima Ulama II, pihaknya akan membahas dukungan kepada kandidat capres-cawapres 2019.

"Di Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional kami sebetulnya sudah mengeluarkan rekomendasi pasangan Capres-Cawapres. Tapi ternyata koalisi Partai Gerindra, PKS dan PAN mengambil pasangan di luar rekomendasi," jelasnya.

Padahal, lanjut Ustaz Yusuf, pada menit-menit terakhir setelah Ustaz Abdul Somad dan Salim Segaf Al Jufri menyatakan tidak bersedia maju jadi cawapres, para ulama langsung menggelar musyawarah.

"Hasilnya memutuskan nama Ustaz Arifin Ilham serta Aa Gym untuk mendampingi Bapak Prabowo. Kami tidak ingin ulama diminta mendorong mobil mogok, tapi setelah mobilnya jalan ternyata ulamanya ditinggal," kata Ustaz Yusuf.

Padahal jika partai koalisi mau mendiskusikan dan menerima saran para ulama, mereka akan mendapatkan dukungan maksimal.

"Tidak hanya suara yang akan mereka dapatkan, tapi juga relawan, posko pemenangan bahkan dukungan logistik yang akan dikumpulkan umat secara sukarela. Itu semua akan terjadi saat HRS dan para ulama sudah memberikan komando," tegasnya.

Untuk itu, pihaknya akan kembali menggelar Ijtima untuk mendengar suara para ulama pemilik hak suara pada ijtima terkait pilpres 2019.

"Hasilnya akan banyak kemungkinan. Bisa saja kami menyatakan abstain. Artinya umat dipersilakan memilih sesuai keinginannya masing-masing, tidak dikomando ulama," pungkasnya.


Reporter : DPU

Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
13-08-2018 14:57