Main Menu

Kabinda Diduga Pulangkan Neno Warisman dari Pekanbaru, Gerindra: Namanya Juga Intel Melayu

Wem Fernandez
27-08-2018 14:16

Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani (GATRA/Ervan Bayu/FT02)

Jakarta, Gatra.com -Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Gerindra Ahmad Muzani angkat bicara ihwal pengakuan dari salah satu deklarator #2019GantiPresiden, Neno Warisman. Neno mengaku dipaksa pulang oleh Kepala Bin Daerah (Kabinda) setelah ada pengadangan dan penolakan massa di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Sabtu (25/8/), kemarin. 

“Kalau membaca UU BIN [Kabinda] itu tugasnya memberi informasi, memperkirakan keadaan, tentang situasi yang akan terjadi. Bukan tampil ke depan. Mungkin supaya dianggap kerja kali ya. Kabinda mungkin ya namanya juga intel Melayu, jadi aduh, Kesannya jadi norak kalau ada intel seperti itu,” tegas Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/8). 

Menurut Muzani, tugas pokok seorang Kabinda adalah memberikan informasi kepada pengambil kebijakan, dalam hal ini Kapolda setempat, Pangdam atau langsung kepada Gubernur. 

“Perlu ada evaluasi. Kalau ada yang tidak beres, mau Kabinda, mau Kapolda, kalau tidak beres, mengganggu ya copot saja. Banyak yang mau jadi Kabinda, Kapolda, masih banyak orang-orang yang berintegritas,” tegas Muzani. 

Bagi Muzani, apapun kegiatan selama tidak melanggar Undang-Undang (UU) maka sah-sah saja. Tidak hanya #2019GantiPresiden, tetapi gerakan yang mendukung Joko Widodo (Jokowi) dua periode. 

“Jadi dalam alam demokrasi, yang penting tidak mengganggu. Yang paling penting menjaga persatuan, keutuhan, yang paling penting bahwa meyakini Pancasila dasar negara kita,” demikian Muzani.

Sebelumnya, BIN mengaku terlibat untuk memastikan bahwa peraturan dilaksanakan karena konser musik bertajuk #2019GantiPresiden yang akan dihadiri Neno tidak mendapat izin kepolisian.


Reporter: Wem Fernandez  
Editor: Iwan Sutiawan

Wem Fernandez
27-08-2018 14:16