Main Menu

PPP Tidak Setuju Polisi Disebut Tak Netral Bubarkan Massa #2019GantiPresiden

Wem Fernandez
28-08-2018 15:32

Arsul Sani.(Dok. DPR RI/re1)

Jakarta,Gatra.com - Sekretaris Jendral Partai Persatuan Pembangunan (Sekjen PPP) Arsul Sani, tak setuju jika pihak berwajib disebut tidak netral pasca membubarkan deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya beberapa waktu lalu. Sebab, masa yang kontra terhadap deklarasi ini juga turut dibubarkan.

“Saya melihat dan enggak setuju (Polisi tidak netral). Sepanjang seperti yang di Surabaya yang dibubarkan dua-duanya. Kalau yang dibubarkan satu pihak saja, saya ikut mengatakan, tapi kalau tidak ada elemen masyarakat yang menentang kemudian Polri tidak mengabulkannya nah itu saya kritisi Polri juga,” jelas Arsul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, hari ini (28/8).

Bentrok antar massa deklarasi #2019GantiPresiden dan sejumlah organisasi di Surabaya, Minggu, (27/8). Ketika itu hampir saja terjadi jika polisi tak bergerak cepat. Persis di depan Kantor DRPD Jatim (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I Jawa Timur, Jalan Rajawali Surabaya, massa sudah saling berhadapan baik dari kubu #2019GantiPresiden dan yang kontra seperti, organisasi masyarakat Pemuda Pancasila (PP), Banser Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor.

"Marilah kita cintai Surabaya. Mari sama-sama membubarkan diri. Semua sudah bubar. Saya yang tanggung jawab. Saya di belakang kalian," kata Kepala Polres Kota Besar Surabaya Komisaris  Besar Rudi Setiawan kepada massa PP dan Banser.

Bagi Arsul, wewenang polisi membubarkan massa telah diatur dalam UU(Undang-undang) Nomor 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Sejauh gerakan yang dimaksud berpotensi mengganggu ketertiban umum maka Polri wajib membubarkannya. Untuk menghindari gesekan antar masyarakat maka arsul menyarankan agar politisi bisa menjadi rem dalam support gerakan yang dimaksud.

“Wong kampanyenya lama kok dari 23 September sampai 12 April, ya mbok sabar sedikit. Apa masalahnya biar enggak terbelah. Nanti setelah itu kampanye sepuas-puasnya. Tinggal nanti ukurannya hanya ada enggak ujaran kebencian? sampai nanti tanggal 23 September hindari gerakan yang terkonsentrasi massa dulu,” tutup dia.


Reporter : Wem Fernandez

Editor: Aries Kelana

 

 

Wem Fernandez
28-08-2018 15:32