Main Menu

Polmark Indonesia : Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta Rusak Pertemanan Pemilih

Abdul Rozak
29-08-2018 14:31

Ilustrasi (Dok. Polmark/FT02)

Jakarta, Gatra.com- PolMark Indonesia melansir beberapa catatan dari sejumlah survei terkait Pemilu dan potensi retaknya kerukunan sosial. Kesimpulannya, perhelatan besar demokrasi Indonesia, yakni Pemilihan Presiden Tahun 2014 dan Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta pada Tahun 2017 lalu telah membawa dampak buruk terhadap kerukunan sosial masyarakat.

 

Simpulan tersebut merupakan hasil dari olahan data 73 survei PolMark Research Center-PolMark Indonesia di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota pada rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018. Salah satu catatannya misal adalah merusak dan memutuskan hubungan pertemanan pemilih.

Dalam survei yang dilakukan Polmark Research Center (PRC) pada Januari 2017 ditemukan bahwa ada sebanyak 4,3% responden menjawab hubungan pertemanan rusak pasca pilpres 2014. Data itu diambil dari riset yang dilakukan terhadap 1.200 responden di DKI Jakarta dengan margin of error (MoE) 2,9%.

Demikian juga pada Pilkada DKI Jakarta 2017 ada 5,7% hubungan pertemanan pemilih rusak. Pilkada "paling panas" itu diwarnai hoax seputar isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

"Peredaran Hoax melalui media sosial ternyata sangat tinggi," kata Direktur Riset Polmark Indonesia Eko Bambang Subiantoro di kawasan Cut Mutia, Jakarta Pusat, Rabu (29/8). Dimana jangkauannya di media sosial hingga 60,8%. Dimana informasi yang diposting itu ternyata bersifat bohong, fitnah, atau hoax

"Jika data itu diproyeksikan ke jumlah pemilih (dengan menimbang margin of error surveinya
sebesar kurang lebih 2,9%, maka kita sebetulnya bicara tentang pemilih dalam jumlah signifikan," kata Eko.

Menurut Eko, penting juga menjadi catatan bahwa 1000 hubungan sosial retak merupakan sebuah statistik. Akan tetapi satu saja keretakan hubungan sosial merupakan tragedi kemanusian atau tragedi demokrasi.

"Dalam demokrasi yang mapan atau terkonsolidasi, proses dan apapun hasil pemilu semestinya tidak membuat luka sosial bagi siapapun. Jika itu terjadi maka itu adalah tragedi kemanusiaan dan demokrasi," kata Eko menegaskan.

 


Reporter : Abdul Rozak

Editor : Birny Birdieni

Abdul Rozak
29-08-2018 14:31